Indonesia Perkuat Diplomasi Industri lewat Bioenergi Sawit
- 13 Jul 2026 11:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama bioenergi kelapa sawit bersama Rusia dan kawasan Eurasia melalui inovasi dan hilirisasi industri.
RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan Indonesia berpotensi menjadi pemain utama bioenergi kelapa sawit bersama Rusia dan Eurasia. Menurut dia, inovasi, hilirisasi, serta kerja sama internasional menjadikan industri sawit sebagai penggerak ekonomi dan ketahanan energi berkelanjutan.
“Kami ingin menjadikan industri sawit sebagai penggerak ekonomi nasional,” ujarnya, Senin 13 Juli 2026. “Industri sawit juga menjadi bagian dari solusi menuju ketahanan energi dan pembangunan industri yang berkelanjutan.”
Partisipasi Indonesia pada Forum Bisnis Indonesia–Rusia INNOPROM 2026 memperluas akses pasar industri nasional melalui kolaborasi internasional. Hal tersebut membuka peluang kerja sama investasi, perdagangan, dan pengembangan teknologi Indonesia dengan Rusia serta kawasan Eurasia.
Direktur Jenderal (Dirjen) Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII), Tri Supondy, menyampaikan hal senada. Menurut dia, transformasi industri sawit Indonesia sudah melampaui peran sebagai komoditas ekspor.
Karena itu, pemerintah mendorong energi bersih berkelanjutan sekaligus terus berinovasi melalui produk unggulan industri nasional. “Kita tunjukkan bahwa Indonesia sudah menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, serta terus berinovasi melalui produk-produk unggulan,” ujarnya.
Forum bisnis tersebut dihadiri lebih dari 100 pemimpin industri, pejabat pemerintah, pelaku usaha, dan pengunjung. Indonesia juga memperkenalkan penerapan mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku pada Juli 2026 untuk mendukung transisi energi global.
Program tersebut mewajibkan penggunaan bahan bakar diesel yang mengandung 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit. Kebijakan tersebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor, memperkuat ketahanan energi nasional, serta menekan emisi karbon.
Indonesia memperkenalkan kebijakan keberlanjutan industri sawit melalui peremajaan kebun, pengembangan SDM, teknologi biodiesel, serta Indonesia Plantation Fund. Selain itu, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil terus diperkuat untuk meningkatkan daya saing kelapa sawit di pasar internasional.
Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyatakan akan mendukung pendanaan program-program tersebut. Direktur BPDPKS, Pangihutan Siagian, mengatakan dukungan diberikan mulai dari hulu hingga ke hilir.
“Mulai peremajaan kebun rakyat, pengembangan sumber daya manusia, serta riset dan inovasi,” ujarnya. “Kami juga mendukung pembangunan sarana dan prasarana perkebunan untuk memperkuat daya saing industri sawit dari hulu hingga hilir.”
Forum bisnis tersebut memperluas kerja sama ekonomi Indonesia dengan Rusia melalui penyelesaian perjanjian perdagangan bebas Indonesia-EAEU. Melalui kolaborasi bioenergi, Indonesia memperkuat kerja sama industri, investasi, transfer teknologi, serta memperluas akses pasar produk manufaktur nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....