Bidik Pasar Eurasia, Indonesia Tampilkan Enam Produk Manufaktur di INNOPROM 2026
- 10 Jul 2026 06:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia menampilkan enam produk manufaktur khusus pada INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia untuk memperluas kerja sama industri, perdagangan, dan investasi di kawasan Eurasia.
- Produk manufaktur Indonesia memiliki keunggulan dari kualitas, inovasi, keberlanjutan, dan identitas budaya yang kuat yang sulit ditiru oleh pesaing internasional.
- Nilai ekspor kerajinan Indonesia pada 2025 mencapai 806,63 juta dolar AS dengan peningkatan 15,46 persen, sementara nilai ekspor furnitur mencapai 1,84 miliar dolar AS.
- Implementasi I-EAEU FTA diharapkan menjadi peluang nyata bagi pelaku industri nasional untuk memperluas jaringan bisnis, meningkatkan ekspor, dan membangun kemitraan berkelanjutan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia menampilkan enam produk manufaktur khusus pada ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia. Keikutsertaan tersebut menjadi upaya memperluas peluang kerja sama industri, perdagangan, dan investasi di kawasan Eurasia.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan produk manufaktur Indonesia tidak hanya mampu bersaing dari kualitas dan inovasi. Menurutnya, produk tersebut juga menawarkan nilai tambah yang lahir dari kreativitas, keberlanjutan, dan identitas budaya yang kuat.
"Produk manufaktur Indonesia tidak hanya mampu bersaing melalui kualitas, inovasi, tetapi menawarkan nilai tambah berkelanjutan beridentitas budaya kuat. Melalui INNOPROM 2026, kami ingin membuka lebih banyak peluang kerja sama industri, perdagangan, dan investasi dengan mitra internasional," ujar Agus dalam keterangan yang dikutip RRI, Kamis, 9 Juli 2026.
Menperin mengatakan keikutsertaan Indonesia pada INNOPROM 2026 menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat posisi manufaktur. Menurutnya, pasar Eurasia menjadi salah satu tujuan ekspor yang semakin menjanjikan bagi industri Indonesia.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan produk manufaktur Indonesia memiliki keunggulan tersendiri. Menurutnya, produk tersebut memadukan identitas budaya kuat, keterampilan lintas generasi, serta kemampuan produksi yang memenuhi standar pasar global.
"Produk manufaktur khas Indonesia memiliki keunggulan sulit ditiru karena memadukan identitas budaya kuat dan standar pasar global modern. INNOPROM 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan keunggulan tersebut sekaligus membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan di kawasan Eurasia," ujarnya.
Data Direktorat Jenderal IKMA menunjukkan nilai ekspor produk kerajinan Indonesia pada 2025 mencapai 806,63 juta dolar AS, meningkat 15,46 persen. Sementara itu, nilai ekspor industri furnitur Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 1,84 miliar dolar Amerika Serikat.
Reni mengatakan implementasi I-EAEU FTA menjadi peluang memperluas jaringan bisnis, meningkatkan ekspor, serta membangun kemitraan industri nasional berkelanjutan. Menurutnya, keikutsertaan Indonesia pada INNOPROM 2026 diharapkan menghasilkan kolaborasi yang berkelanjutan dengan mitra di kawasan Eurasia.
"Implementasi I-EAEU FTA harus menjadi peluang nyata bagi pelaku industri nasional memperluas jaringan bisnis, meningkatkan ekspor, membangun kemitraan. Kami berharap keikutsertaan Indonesia pada INNOPROM 2026 dapat menghasilkan kolaborasi yang berkelanjutan dengan mitra di kawasan Eurasia," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....