Neraca Perdagangan Indonesia Januari-Mei 2026 Surplus USD4,03 Miliar

  • 02 Jul 2026 20:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Mei 2026 mencatat surplus USD4,03 miliar, ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar USD16,31 miliar yang mengimbangi defisit migas.
  • Ekspor industri pengolahan tumbuh 6,80 persen secara tahunan, didorong peningkatan ekspor aluminium, nikel, dan bahan kimia organik sebagai hasil penguatan hilirisasi.
  • Kemendag menilai kenaikan impor barang modal sebesar 21,12 persen pada Mei 2026 mencerminkan meningkatnya investasi dan kapasitas produksi nasional yang diharapkan memperkuat daya saing ekspor.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Mei 2026 mencatat surplus sebesar USD4,03 miliar. Surplus tersebut ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar USD16,31 miliar yang mampu mengimbangi defisit migas sebesar USD12,28 miliar.

Pada Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar. Defisit tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya defisit sektor migas.

"Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 defisit, namun secara kumulatif, kinerja perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Ini membuktikan kinerja perdagangan nonmigas Indonesia masih tetap kokoh di tengah tantangan global," ujar Budi di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.

Budi mengatakan industri pengolahan tetap menjadi penopang utama ekspor nasional. Kinerja ekspor sektor tersebut menunjukkan hilirisasi dan penguatan daya saing produk manufaktur terus memberikan hasil positif.

Pemerintah akan terus memperluas akses pasar ekspor dan meningkatkan nilai tambah produk nasional. Langkah tersebut dilakukan agar kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga.

"Ke depan, pemerintah akan terus memperluas akses pasar ekspor. Sekaligus meningkatkan nilai tambah produk nasional agar kinerja ekspor tetap terjaga," kata Budi.

Selama Januari-Mei 2026, ekspor sektor industri pengolahan tumbuh 6,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya ekspor aluminium, nikel, dan bahan kimia organik.

Budi mengatakan kenaikan impor barang modal mencerminkan menguatnya aktivitas investasi dan kapasitas produksi nasional. Pada Mei 2026, impor barang modal meningkat 21,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan impor barang modal diharapkan mendukung peningkatan daya saing industri nasional. Kondisi tersebut juga diharapkan memperkuat kinerja ekspor Indonesia ke depan.

"Kenaikan impor barang modal mencerminkan menguatnya aktivitas investasi dan kapasitas produksi nasional. Hal ini diharapkan dapat mendukung peningkatan daya saing industri serta ekspor Indonesia ke depan," ucap Budi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....