Inflasi Mei Melonjak, Apindo Ingatkan Risiko terhadap Pertumbuhan Konsumsi

  • 04 Jun 2026 09:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) khawatir daya beli masyarakat akan makin turun seiring dengan keluarnya data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dimana BPS menyebut, inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28% secara bulanan (mtm) dan 3,08 persen secara tahunan (yoy) atau mengalami kenaikan dibandingkan April yang berada di posisi 2,42 persen (yoy).

Analis Kebijakan Ekonomi Apindo), Ajib Hamdani, mengatakan kenaikan Inflasi menggambarkan kondisi meningkatnya harga barang dan jasa yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun. “Masyarakat tentunya akan mengurangi belanja, terutama untuk produk-produk tertentu yang mengalami kenaikan harga,” katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro 3, Rabu, 3 Juni 2026.

Secara keseluruhan, kata Ajib, melemahnya daya beli beli masyarakat akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. “Seperti kita ketahui, belanja masyarakat masih menjadi penopang terbesar (lebih dari 50 persen) pertumbuhan ekonomi nasional,” lanjutnya.

Ajib menduga, naiknya sejumlah harga komoditas akibat ingginya permintaan (Demand-Pull) masyarakat tetapi ketersediaannya terbatas. Pasalnya, kata dia, BPS menyampaikan penyumbang terbesar kenaikan inflasi adalah komoditas seperti cabai dan minyak goring.

“Tapi dampaknya bisa terhadap komoditas lain, dimana masyarakat akan mengurangi pengeluaran untuk komoditas atau produk lain. Ini bagi kami kalangan pengusaha juga akan merasakan dampaknya,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi menyikapi perkembangan kondisi ekonomi dalam negeri dan dampak geopolitik, dunia usaha saat ini melakukan berbagai langkah. “Salah satunya, tidak melakukan ekspansi usaha, dan efisiensi.

Sebelumnya, BPS juga menyebut, laju inflasi pada periode ini didorong oleh beberapa faktor utama, dimana Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau: Menjadi penyumbang andil terbesar inflasi bulanan sebesar 0,12 persen, dipicu oleh kenaikan harga minyak goreng dan cabai merah.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan harga beras juga naik disemua tingkat, baik di penggilingan, grosir maupun eceran. Misalnya, di penggilingan, harga beras tercatat Rp13.765 per kg, naik dari bulan sebelumnya sebesar Rp13.685 per kg.

Bila melihat dari kualitas beras di penggilingan, maka beras premium naik 0,56 persen (mtm) dan 12,81 persen (yoy). Sementara, untuk beras medium naik 0,79 persen (mtm) secara atau naik 6,57 persen (yoy). Begitu juga dengan harga beras di tingkat grosir maupun eceran yang tercatat masing-masing senilai Rp14.574 dan Rp15.358 per kilogram.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....