Komunitas Relawan Parekraf Sebut Pelemahan Rupiah Dongkrak Daya Beli Wisman

  • 03 Jun 2026 10:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua Umum GenPI Nasional Siti Chotijah menilai pelemahan rupiah menjadi peluang bagi sektor pariwisata Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Umum Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Nasional, Siti Chotijah, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi peluang bagi sektor pariwisata Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke berbagai destinasi wisata.

Menurut dia, wisatawan asing memiliki daya beli yang lebih besar saat menukarkan mata uang negaranya ke rupiah. Situasi tersebut membuat mereka lebih leluasa berbelanja dan melakukan perjalanan wisata di Indonesia.

"Ini memang satu fenomena yang menarik ya saat rupiah melemah, tetapi justru dari sisi wisatawannya bisa bertumbuh bahkan meningkat begitu. Kalau kita lihat fenomena ini tentu harus melihat dari berbagai perspektif ya," ujar Siti Chotijah yang akrab disapa Jhe saat dihubungi RRI, Selasa, 2 Juni 2026.

Jhe mengatakan wisatawan asal Malaysia, Australia, serta sejumlah negara Asia Tenggara dan Oseania menjadi pasar potensial. Mereka dinilai memiliki peluang lebih besar untuk berkunjung ketika nilai tukar mata uangnya menguat terhadap rupiah.

Dia mencontohkan pengalaman wisatawan Malaysia yang sempat viral karena merasa diuntungkan saat berbelanja di Indonesia. Nilai tukar ringgit yang lebih kuat membuat wisatawan dapat membeli lebih banyak barang dan oleh-oleh.

"Nah kalau kita lihat kemarin juga yang sempat viral itu kan ada satu wawancara dengan salah satu wisatawan Malaysia yang berbelanja di Indonesia. Bahkan wisatawan itu merasa sangat kegirangan karena dengan uang Rp1 juta itu bisa mendapatkan banyak sekali barang begitu," kata Jhe.

Meskipun demikian, Jhe mengingatkan peluang tersebut harus diimbangi kesiapan sektor pariwisata nasional. Ketersediaan transportasi, promosi destinasi, dan kualitas layanan perlu terus diperkuat.

Dia juga menilai peningkatan jumlah wisatawan harus disertai pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Dampak terhadap lingkungan, kemacetan, serta kesejahteraan masyarakat lokal perlu menjadi perhatian bersama.

"Nah ini kan menjadi satu peluang di satu sisi begitu. Sehingga wisatawan mancanegara kita bisa bertumbuh secara signifikan," ucapnya.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, melaporkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan. Angka tersebut naik 14,75 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 7,22 persen secara tahunan.

Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari hingga April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan. Capaian tersebut meningkat 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Dengan demikian, secara total jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 1,25 juta atau naik 14,75 persen secara bulanan. Sedangkan secara tahunan naik 7,22 persen," ujar Pudji.

Pudji mengatakan wisatawan pemegang paspor Malaysia menjadi kelompok terbanyak dengan porsi 16,65 persen. Posisi berikutnya ditempati wisatawan Australia sebesar 12,65 persen dan Tiongkok sebesar 10,73 persen.

Menurut BPS, capaian kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga April 2026 merupakan yang tertinggi sejak 2020. Kunjungan terbanyak tercatat melalui Bandar Udara Ngurah Rai, Bali.

"Kunjungan Wisman paling banyak dilakukan oleh wisatawan yang memegang paspor Malaysia yaitu 16,65 persen. Kemudian yang kedua adalah Australia yaitu 12,65 persen dan yang ketiga adalah Tiongkok 10,73 persen," kata Pudji.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....