Pelemahan Rupiah Saat Ini Dinilai Berbeda dengan Krisis 1998

  • 26 Mei 2026 10:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • DPR menilai pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan krisis 1998.
  • Pemerintah disebut terus memperkuat sistem keuangan melalui reformasi struktural.
  • Airlangga menilai kualitas ketahanan ekonomi Indonesia kini lebih solid.

RRI.CO.ID, Jakarta – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai masyarakat kerap salah memahami pelemahan nilai tukar rupiah saat ini. Menurutnya, kondisi rupiah sekarang tidak dapat disamakan dengan krisis ekonomi 1998.

Misbakhun mengatakan nilai tukar rupiah memang sempat bergerak di kisaran Rp17.600 per dolar AS. Namun, ia menegaskan pelemahan tersebut berbeda dengan kondisi krisis moneter 1998.

Saat itu, ujarnya, rupiah melonjak dari kisaran Rp2.000 hingga menembus Rp17.000 bahkan mendekati Rp19.000 per dolar AS. Sementara pelemahan saat ini terjadi dari kisaran Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS dengan volatilitas yang masih terjaga.

“Dulu Rp2.500, Rp2.400 ke Rp 17.000 itu kan ratusan persen. Ini yang harus dipahamkan oleh kita semua kepada masyarakat,” ujar Misbakhun di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terpengaruh sentimen negatif yang memicu kekhawatiran berlebihan terhadap kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, pemerintah terus memperkuat respons kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

Misbakhun mencontohkan, setelah krisis 1998 pemerintah membentuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sementara pascakrisis global 2008, pemerintah membentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat pengawasan sektor keuangan.

“Karena kita selalu memberikan respons yang struktural dan memadai. Kita membuat sistem keuangan makin lama makin solid,” katanya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta masyarakat melihat pergerakan rupiah secara utuh berdasarkan konteks historis. Ia menilai ketahanan ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibanding dua dekade sebelumnya.

“Sedangkan di periode 2014-2024 itu rupiah depresiasinya 30,6 persen dan inflasinya 3 persen. Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir,” ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, pemerintah mampu menjaga inflasi domestik tetap rendah meski menghadapi tekanan global. Saat ini, inflasi disebut berada di kisaran 2,4 persen dengan depresiasi rupiah sekitar 5 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....