Industri Manufaktur Solid, Menperin Pacu Ekspansi Pasar Global

  • 06 Mei 2026 22:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menperin menyebut industri manufaktur nasional tetap solid didorong permintaan domestik dan global.
  • Sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama ekonomi dengan pertumbuhan signifikan di berbagai subsektor.
  • Pemerintah dorong ekspansi pasar global melalui stimulus dan insentif tanpa mengabaikan pasar domestik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan kinerja industri manufaktur nasional tetap berada dalam kondisi solid. Agus menyebut pertumbuhan tersebut dipicu oleh kenaikan permintaan yang berasal dari pasar domestik maupun luar negeri.

Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan pada triwulan pertama tahun 2026. Sektor industri pengolahan tetap mendominasi struktur perekonomian nasional dengan kontribusi sebesar 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sektor industri pengolahan juga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan bidang perdagangan, pertanian, maupun konstruksi. Capaian ini menunjukkan bahwa arah kebijakan pemerintah yang pro-industri telah memberikan hasil yang sangat positif.

“Kinerja industri manufaktur tetap solid karena adanya permintaan yang meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ujar Agus di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) secara konsisten menunjukkan fase ekspansi di atas level 50 sepanjang triwulan pertama. Kondisi ini selaras dengan optimisme para pelaku usaha terhadap prospek bisnis manufaktur di masa depan.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) pada level 51,37. Nilai tersebut menggambarkan persepsi positif pengusaha terhadap aktivitas produksi serta pengiriman barang pada periode berjalan.

“Nilai IKBM sebesar 51,37 berarti di atas 50 menunjukkan bahwa mayoritas pelaku industri berada dalam fase ekspansi. Hal itu baik dari sisi produksi maupun permintaan,” kata Agus.

Subsektor industri makanan dan minuman mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 7,04 persen selama periode Ramadan. Peningkatan produksi beras serta ekspor minyak sawit mentah menjadi pendorong utama pada kategori industri tersebut.

Industri barang logam beserta komputer turut tumbuh pesat hingga mencapai angka sebesar 10,35 persen. Permintaan global terhadap komponen elektronik dan baterai menjadi pemicu utama lonjakan kinerja pada subsektor ini.

Sektor kimia dan farmasi mencatat kenaikan sebesar 7,41 persen guna memenuhi kebutuhan domestik serta ekspor. Pemerintah terus merumuskan langkah solutif melalui pemberian stimulus serta insentif yang tepat sasaran bagi pengusaha.

“Kita terus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi pelaku industri di lapangan dan merumuskan langkah-langkah solutif. Kebijakan stimulus dan insentif menjadi penting agar pertumbuhan manufaktur dapat berjalan lebih cepat, berkualitas dan berkelanjutan,” ucap Agus.

Agus menyoroti pentingnya strategi peningkatan rasio ekspor produk manufaktur terhadap serapan pasar dalam negeri. Saat ini sekitar 80 persen hasil produksi pabrikan lokal masih didominasi oleh konsumsi masyarakat domestik.

Pemerintah ingin meningkatkan kontribusi pengiriman barang ke luar negeri guna mengoptimalkan utilitas produksi industri nasional. Ekspansi pasar global diharapkan mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja secara lebih masif bagi rakyat Indonesia.

“Kita ingin meningkatkan kontribusi ekspor tanpa mengurangi porsi domestik. Artinya, perlindungan terhadap pasar dalam negeri tetap dijaga, namun kita juga harus meningkatkan ekspansi produk manufaktur lebih besar ke pasar global,” ujar Agus.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Data BPS ini menunjukkan capaian ini tertinggi sejak triwulan I 2021.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan pertumbuhan tersebut melampaui capaian tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen. “Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara year on year,” ucapnya di Jakarta, Selasa 5 Mei 2026.

Amalia mengatakan, data historis menunjukkan pertumbuhan triwulan I sejak 2021 berada di -0,69 persen. Angka ini meningkat menjadi 5,02 persen pada 2022 dan 5,04 persen pada 2023.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....