BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61 Persen, Tertinggi Sejak 2021

  • 06 Mei 2026 12:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 capai 5,61 persen (yoy)
  • Capaian tertinggi sejak triwulan I 2021
  • Naik dari 4,87 persen pada periode yang sama tahun 2025
  • Konsumsi rumah tangga jadi kontributor terbesar (54,36 persen PDB)
  • Pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,52 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Data BPS ini menunjukkan capaian ini tertinggi sejak triwulan I 2021.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan pertumbuhan tersebut melampaui capaian tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen. “Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara year on year,” ucapnya di Jakarta, Selasa 5 Mei 2026.

Amalia mengatakan, aata historis menunjukkan pertumbuhan triwulan I sejak 2021 berada di -0,69 persen. Angka ini meningkat menjadi 5,02 persen pada 2022 dan 5,04 persen pada 2023.

Selanjutnya pertumbuhan mencapai 5,11 persen pada 2024 sebelum turun ke 4,87 persen pada 2025. Menurutnya, tren ini menunjukkan pemulihan ekonomi yang berlanjut.

Dari sisi pengeluaran, ia menyebutkan konsumsi rumah tangga menyumbang 54,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pertumbuhan konsumsi sendiri tercatat sebesar 5,52 persen.

Sementara untuk konsumsi tertinggi berasal dari kelompok restoran dan hotel sebesar 7,38 persen. Lalu disusul transportasi dan komunikasi sebesar 6,91 persen.

Disisi lain, kelompok makanan dan minuman selain restoran berkontribusi 4,54 persen. “Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar sebesar 2,94 persen,” kata Amalia.

Ia menyebut momentum hari besar keagamaan dan program pemerintah mendorong tingkat konsumsi. Kebijakan ekonomi ini dinilainya mampu menjaga stabilitas pertumbuhan.

“Kebijakan seperti pengendalian inflasi dan stimulus ekonomi turut mendorong pertumbuhan,” ucapnya. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan stimulus pemerintah akan terus dioptimalkan.

“Stimulus pemerintah menjadi bantalan terhadap gejolak global,” ucapnya. Ia menyebut akselerasi bantuan pangan dilakukan pada April hingga Juni 2026 yang menyasar 33,2 juta keluarga penerima manfaat.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman. "Stok cadangan beras saat ini sekitar 5,2 juta ton,” ucapnya.

Selama triwulan I 2026, bantuan pangan telah disalurkan kepada 1,85 juta keluarga penerima manfaat. Total penyaluran mencapai 37,1 juta kilogram beras dan 7,4 juta liter minyak goreng.

Penyaluran dilakukan sejak Januari hingga Maret 2026 sebagai bagian dari program pemerintah. Pemerintah juga memperpanjang penyaluran hingga 31 Mei 2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....