Akselerasi Manufaktur, Menperin dan Menkeu Perkuat Sinergi Kebijakan
- 05 Mei 2026 15:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menperin dan Menkeu perkuat sinergi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan manufaktur nasional.
- Insentif strategis dan stimulus disiapkan untuk percepat ekspor tanpa mengabaikan pasar domestik.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memperkuat sinergi kebijakan dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Agus menyebut kolaborasi lintas sektor tersebut bertujuan untuk mendorong pertumbuhan industri manufaktur nasional secara maksimal.
Kedua kementerian membahas berbagai kendala lapangan yang sering dihadapi oleh para pelaku usaha industri saat ini. Mereka merumuskan langkah strategis guna menemukan solusi kebijakan yang tepat bagi keberlangsungan sektor manufaktur nasional.
Pemerintah memberikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) atas pembentukan tim khusus. Agus mengatakan tim debottlenecking telah membuka saluran komunikasi untuk membedah masalah yang dihadapi pelaku usaha industri.
“Kita bedah berbagai macam kendala yang mungkin dihadapi di lapangan oleh pelaku usaha industri, kemudian kita carikan jalan keluarnya. Kami juga memberikan apresiasi sejak awal bahwa Menteri Keuangan sudah membuka dan mengkanalisasi berbagai permasalahan yang dihadapi pelaku usaha,” ujar Agus saat ditemui di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Koordinasi erat antara kementerian, menurutnya menjadi kunci utama dalam merumuskan kebijakan stimulus yang tepat sasaran. Ia menilai langkah ini sangat penting karena sektor manufaktur merupakan tulang punggung perekonomian nasional.
Upaya percepatan pertumbuhan industri pengolahan diharapkan mampu menopang target ekonomi pemerintah dengan lebih baik lagi. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah nyata melalui pemberian insentif strategis bagi para pengusaha di tanah air.
“Intinya, kami membahas berbagai policy dan langkah yang perlu diambil pemerintah. Baik sebagai stimulus maupun insentif, agar pertumbuhan manufaktur yang menopang pertumbuhan ekonomi dapat berjalan lebih baik dan lebih cepat,” kata Agus.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produk manufaktur menyumbang sekitar 75 persen hingga 80 persen ekspor nasional. Namun, ia menjelaskan bahwa struktur industri Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan negara tetangga lainnya.
Negara seperti Vietnam, Thailand, maupun Malaysia memiliki orientasi pasar yang tidak sama dengan kondisi manufaktur Indonesia. Selama ini, konsumsi masyarakat lokal menyerap sekitar 80 persen dari total hasil produksi pabrik nasional.
“Kita ingin meningkatkan capaian tersebut. Namun perlu dipahami bahwa struktur manufaktur Indonesia berbeda dengan negara lain seperti Vietnam, Thailand, maupun Malaysia,” ucap Agus.
Pemerintah, menurutnya berupaya keras mendorong volume pengiriman barang ke luar negeri tanpa mengabaikan kekuatan pasar lokal. Ia menegaskan perlindungan terhadap industri dalam negeri tetap menjadi prioritas di tengah upaya ekspansi global.
“Kita ingin mengoptimalkan potensi ekspor tanpa mengurangi porsi domestik. Artinya, kita tetap melindungi pasar dalam negeri, tetapi juga mendorong peningkatan ekspor produk manufaktur,” kata Agus.
Pemberian insentif kendaraan listrik, menurutnya, kini menjadi sangat relevan dalam rangka menjaga efisiensi fiskal negara. Ia menilai kebijakan tersebut mampu menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga beban subsidi pemerintah berkurang.
“Insentif kendaraan listrik kini semakin relevan. Selain untuk menekan emisi, juga untuk mengurangi konsumsi BBM sehingga dapat menekan beban subsidi,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....