Perkuat Industri, Menperin Sebut Pemberian Stimulus Kendaraan Listrik Relevan
- 05 Mei 2026 15:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menperin menyebut stimulus kendaraan listrik semakin relevan untuk memperkuat industri dan melindungi tenaga kerja.
- Insentif kendaraan listrik dinilai mampu menekan emisi karbon serta mengurangi konsumsi BBM dan subsidi energi.
- Pemerintah dorong penguatan manufaktur dan ekspor di tengah pergeseran global menuju energi ramah lingkungan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemberian stimulus khusus untuk sektor kendaraan listrik nasional semakin relevan. Agus menyebut langkah strategis tersebut bertujuan untuk memperkuat ketahanan industri serta melindungi para tenaga kerja lokal.
Menurutnya, pemberian insentif kendaraan listrik kini semakin relevan karena berkaitan dengan agenda pengurangan emisi karbon dunia. Ia menilai kebijakan tersebut mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) serta mengurangi beban subsidi energi pemerintah.
Agus mengatakan kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi nasional bagi sektor manufaktur. Menurut dia, upaya ini sangat penting untuk menjaga daya tahan industri dan melindungi kesejahteraan tenaga kerja.
“Insentif atau stimulus itu memang dalam rangka untuk memperkuat industri kita. Sehingga tenaga kerja kita bisa juga terlindungi,” kata Agus saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurutnya, pergeseran tren pasar otomotif ke arah elektrik terjadi akibat gejolak geopolitik serta ketidakpastian energi global. Lanjutnya, konflik antara Amerika Serikat dan Iran lanjutnya mendorong konsumen untuk segera mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI), menurutnya tidak memiliki kewenangan dalam menentukan bentuk maupun skema insentif tersebut. Ia menegaskan bahwa ranah teknis mengenai stimulus fiskal sepenuhnya berada di bawah kendali Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
“Soal kapan kendaraan listrik mau diberikan insentif, bagaimana bentuk insentifnya. Skemanya seperti apa, mungkin bisa dibicarakan langsung dengan Menteri Keuangan,” ujar Agus.
Pertemuan tersebut selain membahas stimulus juga mendiskusikan upaya peningkatan ekspor produk manufaktur asal Indonesia. Agus menyampaikan bahwa penguatan kinerja pengiriman barang ke luar negeri menjadi agenda prioritas bagi pemerintah saat ini.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 75 persen hingga 80 persen ekspor nasional berasal dari manufaktur. Namun, ia menjelaskan bahwa mayoritas hasil produksi industri nasional saat ini masih diserap oleh pasar domestik.
Total produksi sektor manufaktur Indonesial menurutnya sekitar 80 persen masih tertuju pada pemenuhan kebutuhan di dalam negeri. Ia menyatakan bahwa hanya sekitar 20 persen dari hasil industri nasional yang saat ini berhasil diekspor.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....