Diversifikasi Produk, Kemenperin Pacu Daya Saing Industri Kerajinan
- 04 Mei 2026 09:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan diversifikasi produk menjadi kunci daya saing industri kerajinan.
- Nilai ekspor kerajinan mencapai 806,63 juta dolar AS pada 2025 dan terus menunjukkan tren positif.
- Kemenperin mendorong inovasi, pemanfaatan teknologi digital, serta pendampingan IKM untuk menembus pasar global.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan strategi diversifikasi menjadi kunci utama penguatan daya saing industri kerajinan. Agus menyebut inovasi produk sangat diperlukan guna menjawab dinamika kebutuhan dan selera pasar yang terus berkembang saat ini.
Sektor industri kerajinan nasional secara konsisten memberikan kontribusi positif terhadap perolehan devisa bagi perekonomian negara. Bidang usaha ini juga sangat strategis karena terbukti mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar.
“Konsumen dan buyer produk kerajinan kini semakin menyukai produk yang spesifik, unik, namun tetap memiliki fungsi yang baik. Karena itu, diversifikasi produk menjadi kunci penting agar produk kerajinan Indonesia semakin kompetitif,” kata Agus di Jakarta, Minggu, 3 Mei 2026.
Menurut Agus, dinamika pasar yang terus berkembang menuntut pelaku industri untuk selalu sigap beradaptasi dan berinovasi. Ia menjelaskan bahwa diversifikasi sangat diperlukan agar hasil karya industri lokal mampu menjangkau segmen pasar lebih luas.
“Diversifikasi produk adalah penambahan ragam produk secara horizontal dengan tetap menggunakan bahan baku dan proses produksi yang hampir sama. Strategi ini bertujuan memperluas segmen dan target pasar tanpa harus membangun lini produksi baru dari awal,” ujarnya.
Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Perindustrian mencatat ekspor kerajinan nasional mencapai 806,63 juta Dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 15,46 persen pada tahun 2025 jika dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya.
Tren positif ini terus berlanjut hingga Januari 2026 dengan nilai pengiriman barang mencapai 52,38 juta Dolar Amerika Serikat. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Reni Yanita menyebut potensi industri ini masih sangat besar.
“Potensi industri kerajinan masih dapat terus dioptimalkan. Kita perlu mendorong pelaku IKM untuk terus berinovasi agar mampu bersaing di pasar global,” ujar Reni.
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka menggelar pendampingan teknis bagi pelaku industri kreatif di Kabupaten Cirebon. Kegiatan yang berlangsung pada 14-17 April 2026 tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan hari ulang tahun Dekranas.
Kabupaten Cirebon dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki beragam produk kerajinan khas yang memiliki kualitas ekspor tinggi. Reni menambahkan bahwa pelaku usaha di wilayah tersebut tetap memerlukan pendampingan agar berani menerapkan strategi diversifikasi produk.
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dipandang mampu membantu para perajin dalam membaca tren pasar global. Menurut Reni, penggunaan teknologi digital akan mempermudah para pelaku usaha dalam mengembangkan ide-ide kreatif yang lebih baru.
“Pelaku IKM juga dituntut memperkuat strategi pemasaran melalui platform digita. Agar produk mereka mampu bersaing di pasar domestik dan menjangkau pasar internasional secara lebih luas,” ucapnya.
Direktur Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan berharap pemerintah daerah meningkatkan fasilitas. Budi menyampaikan langkah ini selaras dengan Rencana Pembangunan Industri Kabupaten (RPIK) Cirebon untuk periode 2025-2045.
Peraturan daerah tersebut menetapkan industri kerajinan rotan serta kayu sebagai salah satu pilar keunggulan ekonomi di wilayah. Program pelatihan intensif selama enam bulan telah membantu perajin dalam memperbaiki manajemen keuangan mereka.
“Salah satu IKM kerajinan kulit berupa merchandise binaan program Akademia Creative Cirebon (ACC) kini telah berhasil memasarkan produknya hingga ke Rusia. Ini membuktikan bahwa pendampingan berkelanjutan mampu membuka akses pasar ekspor bagi IKM daerah,” ujar Budi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....