Kemendag Diplomasi Atasi Suspensi Ekspor Sarang Burung Walet ke Tiongkok
- 14 Apr 2026 17:03 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perdagangan melakukan diplomasi untuk mengatasi suspensi ekspor sarang burung walet ke Tiongkok.
- Suspensi terjadi akibat temuan kandungan aluminium melebihi standar oleh General Administration of Customs China (GACC).
- Pemerintah mendorong perbaikan kualitas, audit produksi, serta pengisian kuota ekspor oleh perusahaan lain guna menjaga pasar.
RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Fajarini Puntodewi melakukan diplomasi perdagangan intensif. Upaya ini bertujuan memulihkan akses ekspor sarang burung walet Indonesia ke Tiongkok pasca temuan kandungan aluminium berlebih.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) sedang membahas solusi atas suspensi terhadap 18 perusahaan eksportir nasional saat ini. Langkah tersebut diambil menyusul adanya laporan mengenai parameter kandungan aluminium yang melebihi ambang batas 100 ppm.
“Kami juga mendiskusikan temuan General Administration of Customs China (GACC). Temuan tersebut terkait kandungan aluminium di atas ambang batas pada produk sarang burung walet Indonesia yang berdampak pada suspensi 18 perusahaan,” ujar Puntodewi di Jakarta, Selasa, 14 April 2026.
Puntodewi menegaskan bahwa pemerintah kini sedang mengawal proses audit internal pada seluruh sistem produksi. Perusahaan yang terdampak suspensi diharapkan dapat segera kembali mengirimkan produk berkualitas mereka ke pasar Tiongkok.
Pemerintah juga melakukan komunikasi teknis secara transparan dengan pihak General Administration of Customs China (GACC). Hal ini dilakukan untuk memastikan akuntabilitas parameter pengujian yang digunakan.
“Upaya ini merupakan bukti industri sarang burung walet Indonesia sangat serius menjaga reputasinya di pasar internasional. Pemerintah akan terus mengawal proses verifikasi ini agar ke-18 perusahaan dapat segera kembali mengirim ke Tiongkok,” kata Puntodewi.
Tiongkok merupakan pangsa pasar utama bagi komoditas sarang burung walet Indonesia dengan porsi 80,15 persen. Namun nilai pengiriman pada tahun 2025 tercatat menurun 11,33 persen menjadi 380,20 juta Dolar Amerika Serikat (AS).
Penurunan ekspor tersebut terus berlanjut pada periode Januari sampai Februari tahun 2026. Realisasi pengiriman tercatat sebesar 83,04 juta Dolar Amerika Serikat (AS) atau merosot sebesar 10,65 persen.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid melihat ada peluang besar bagi eksportir lainnya. Ia mendorong para pelaku usaha nasional untuk mengisi kekosongan kuota ekspor sebesar 300 ton tersebut.
Perusahaan yang telah memenuhi kualifikasi diminta segera bersinergi guna mempertahankan dominasi pasar Indonesia di mancanegara. Sinergi ini dianggap sebagai instrumen vital dalam menjaga stabilitas volume ekspor produk primer ke Tiongkok.
“Pemerintah mendorong perusahaan-perusahaan lain yang memiliki kapasitas dan sudah memenuhi kualifikasi untuk segera bersinergi dan mengisi kuota tersebut. Langkah ini adalah instrumen penting untuk memastikan pangsa pasar kita di Tiongkok tetap terjaga,” ujar Miftah.
Ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI) Boedi Mranata menyoroti perbedaan standar mekanisme pengujian kedua negara. Ia mengusulkan adanya penyelarasan sistem pemeriksaan laboratorium agar hasil uji di tanah air diakui Tiongkok.
Boedi menilai ketidakpastian hasil pengujian yang masih menjadi tantangan. Ia juga mendorong peningkatan teknologi produksi guna mengendalikan kadar aluminium agar sesuai dengan standar internasional.
“Produk yang telah lolos pengujian di Indonesia belum tentu lolos saat diperiksa di Tiongkok sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Oleh karena itu, perlu adanya penyelarasan mekanisme pengujian agar hasil yang diperoleh di Indonesia dapat diakui oleh Tiongkok,” ujar Boedi.
Presiden Yan TyTy Li Li menyatakan kesiapan perusahaannya untuk membantu mempermudah jalur masuk produk Indonesia. Ia menghimbau eksportir nasional agar senantiasa menjaga konsistensi standar kualitas serta stabilitas harga di pasar.
“Kami siap berperan dalam penyesuaian standar kualitas, perbaikan proses, penyampaian kebutuhan pasar. Selain itu, penyediaan pasokan yang sesuai untuk membantu produk berkualitas Indonesia masuk ke pasar Tiongkok dengan lebih lancar dan meningkatkan daya saing sarang burung walet Indonesia,” kata Li Li.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....