Program Belanja Nasional Tembus Rp184 Triliun, Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat
- 13 Apr 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai transaksi Program Belanja Nasional Triwulan I 2026 mencapai Rp184,02 triliun, yang berarti melampaui target dan menunjukkan daya beli masyarakat tetap kuat.
- Program Friday Mubarak yang diselenggarakan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan BINA Lebaran 2026 berkontribusi besar terhadap total transaksi.
- Peningkatan kunjungan pusat belanja hingga 12 persen menjadi sinyal pemulihan sektor ritel nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, menyatakan nilai transaksi Program Belanja Nasional Triwulan I 2026 menembus Rp184,02 triliun. Pencapaian tersebut melampaui target awal sebesar Rp172,38 triliun.
Menurut Budi, sinergi antara pemerintah dan pengusaha menciptakan stimulus ekonomi yang sangat efektif. “Ini menciptakan stimulus efektif bagi konsumsi masyarakat yang daya belinya terbukti masih cukup kuat,” ujarnya, Minggu, 12 April 2026.
Mendag memaparkan program Friday Mubarak yang dikelola Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berhasil membukukan transaksi Rp129,12 triliun. Ini berarti sekitar 8,5 persen di atas target awal yang ditetapkan Kementerian Perdagangan (Kemendag).
Budi menambahkan sekitar 13.450 pasar rakyat serta 414 pusat perbelanjaan turut berpartisipasi pada agenda besar tersebut. Program ini melibatkan 11 juta pedagang pasar untuk menggerakkan roda ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut dia, skema Belanja di Indonesia Aja (Bina) Lebaran 2026 turut menyumbang performa positif perdagangan. Total nilai transaksi program yang diinisiasi Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) itu mencapai Rp54,9 triliun.
Pencapaian Bina Lebaran tercatat mencapai 2,8 persen di atas target yang dicanangkan pemerintah. Kegiatan ini melibatkan 80 ribu gerai ritel serta 800 merek yang tersebar luas di 24 provinsi.
Mendag menegaskan Program Belanja Nasional berfungsi sebagai instrumen strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. “Fokus utama pemerintah adalah memperkuat sektor konsumsi rumah tangga sebagai fondasi keberlanjutan ekonomi domestik,” ujarnya.
Budi juga menyoroti tren kenaikan kunjungan ke pusat perbelanjaan yang meningkat hingga 12 persen. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) melaporkan konsumsi didominasi sektor makanan serta hiburan.
Menurut dia, lonjakan pengunjung tersebut menjadi sinyal positif bagi pemulihan sektor ritel nasional secara menyeluruh. “Pemerintah optimistis tren ini akan terus berlanjut dengan proyeksi pertumbuhan kunjungan pada Triwulan I-2026 di atas 10 persen secara tahunan,” ujarnya.
Mendag memastikan pemerintah akan terus mendorong kolaborasi berkelanjutan bersama para pelaku usaha mikro kecil menengah. Hal ini dilakukan demi memperkuat ekosistem perdagangan dalam negeri agar tetap kompetitif dan juga stabil.
Karena itu, pemerintah bersama asosiasi telah menyiapkan rangkaian program belanja strategis hingga akhir Desember tahun ini. Agenda tersebut meliputi promo hari kemerdekaan serta festival belanja besar pada momentum liburan akhir tahun.
“Pemerintah bersama asosiasi pelaku usaha akan terus berkolaborasi mendorong keberlanjutan program belanja nasional,” ujarnya. Menurut Mendag, ini adalah upaya strategis untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjadi katalis utama pertumbuhan sektor perdagangan ritel nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....