PMI Manufaktur Masih Ekspansi, Menperin Soroti Ketahanan Industri Nasional
- 01 Apr 2026 14:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PMI manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansi pada Maret 2026 dengan capaian 50,1 poin.
- Permintaan domestik menjadi penopang utama ketahanan industri di tengah tekanan global.
- Optimisme pelaku usaha tetap tinggi, didukung langkah pemerintah menjaga logistik dan daya saing industri.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut performa sektor manufaktur nasional tetap tangguh pada periode Maret 2026. Ia menilai angka indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 50,1 poin membuktikan industri Indonesia masih bertahan di zona ekspansi.
Agus menjelaskan bahwa kondisi ekonomi dunia saat ini berada dalam tekanan yang sangat berat. Ia menilai sektor industri tanah air memiliki resiliensi yang sangat kuat menghadapi ketidakpastian pasar global.
“Kami kaget sekaligus bersyukur bahwa di tengah kondisi yang super berat, baik dari sisi global maupun domestik, rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur tanah air,” ujar Agus di Jakarta, Rabu, 1 April 2026.
Agus menjelaskan bahwa permintaan pasar dalam negeri tetap menjadi penopang utama bagi kekuatan struktur industri. Ia menilai fundamental ekonomi nasional yang solid mampu menahan berbagai tekanan eksternal dari konflik geopolitik.
“Fundamental industri kita masih kuat. Permintaan dalam negeri tetap menjadi penopang utama, sehingga mampu menahan tekanan eksternal yang cukup besar,” kata Agus.
Agus menyebut bahwa posisi daya saing manufaktur Indonesia masih tergolong kompetitif jika dibandingkan secara global. Ia membandingkan capaian tersebut dengan negara lain seperti Jepang yang mencatat angka indeks sebesar 51,6.
Agus menjelaskan bahwa Indonesia tetap berada dalam kelompok negara ASEAN dengan aktivitas industri yang ekspansif. Ia mencatat Thailand berada pada angka 54,1 sementara Malaysia dan Myanmar masing-masing sebesar 50,7 dan 51,5.
Agus menyebut tekanan inflasi dan gangguan rantai pasok sedang melanda hampir seluruh kawasan di dunia. Ia menilai kenaikan biaya energi serta bahan baku akibat konflik Timur Tengah menjadi tantangan kolektif.
“Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain. Dalam hal ini, Indonesia masih mampu bertahan di zona ekspansi, ini tentu menjadi capaian yang patut diapresiasi,” ucap Agus.
Agus menjelaskan bahwa keterlambatan pengiriman bahan baku pada Maret merupakan yang paling tajam sejak tahun 2021. Ia menyebutkan kondisi tersebut memicu para produsen untuk menyesuaikan harga jual guna menjaga keberlanjutan operasional.
Agus menilai pelaku industri tetap menunjukkan sikap optimisme yang sangat tinggi terhadap prospek bisnis ke depan. Ia merinci sebanyak 73,7 persen responden menyatakan bahwa kegiatan usaha mereka saat ini membaik dan stabil.
Agus menyebut tingkat optimisme pelaku usaha untuk enam bulan mendatang mencapai angka yang meyakinkan yakni 71,8 persen. Ia memastikan kementerian terus melakukan langkah strategis guna memperkuat struktur industri serta meningkatkan utilisasi produksi.
Agus menjelaskan pemerintah fokus menjaga kelancaran pasokan logistik agar iklim usaha nasional tetap bersifat kondusif. Ia berkomitmen menciptakan ekosistem industri yang adaptif terhadap dinamika global yang terjadi pada bulan April ini.
Agus menyebutkan sektor manufaktur tetap menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat nasional. Ia meyakini sinergi antarlembaga akan memperkuat daya saing produk lokal di pasar internasional yang kompetitif.
“Kami bersama kementerian/lembaga (K/L) terkait akan terus memastikan industri dalam negeri tetap bergerak, adaptif, dan kompetitif. Ketahanan ini harus dijaga karena sektor manufaktur merupakan tulang punggung ekonomi nasional,” ujar Agus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....