Penutupan Perdagangan, Rupiah Lanjutkan Penguatan ke Posisi Rp17.899 per Dolar AS

  • 06 Okt 2026 21:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu data Bloomberg, pada penutupan perdagangan rupiah naik 0,10 persen atau 18 poin ke posisi Rp17.899 per dolar AS
  • Posisi dolar AS jelang penutupan perdagangan di level 102,04, turun dari posis tertinggi 102,28 sepanjang hari ini
  • Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga the Fed di bulan Oktober ini sedikit mereda

RRI.CO.ID, Jakarta – Seperti sudah diprakirakan, nilai tukar rupiah akan menguat terhadap dolar AS. Mengacu data Bloomberg, pada penutupan perdagangan rupiah naik 0,10 persen atau 18 poin ke posisi Rp17.899 per dolar AS.

Kondisi konflik di Timur Tengah, utamanya di Yaman dan data ekonomi AS, mempengaruhi pergerakan indeks dolar AS. Posisi dolar AS jelang penutupan perdagangan di level 102,04, turun dari posis tertinggi 102,28 sepanjang hari ini.

Pelemahan dolar mendorong penguatan rupiah. Di AS, data inflasi dari belanja konsumsi pribadi (PCE) dan data ketenagakerjaan bulan Agustus melemah.

“Hal tersebut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed di bulan Oktober ini,” ucap Ibrahim. Selanjutnya, pasar menantikan risalah hasil pertemuan the Fed bulan September dan data klaim awal tunjangan pengangguran di AS pada pekan ini.

Dari Timur Tengah, Arab Saudi melakukan serangan pada kelompok Houthi di Yaman. Namun posisi kelompok Houthi masih kuat karena menguasai beberapa wilayah kawasan pegunungan yang menghambat gerakan militer Yaman.

Konflik Timur Tengah nampaknya masih akan panjang, yang memicu kekhawatiran akan fluktuasi harga minyak dunia. Ketidakpastian diprakirakan masih akan tinggi yang berdampak pada pasar keuangan global.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati proyeksi Bank Dunia terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026. Disebutkan, perekonomian Indonesia tahun ini akan tumbuh 5,2 persen, proyeksi naik sebesar 0,5 persentase.

“Revisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena melihat aktivitas ekonomi Indonesia. Peningkatan program prioritas pemerintah, investasi, dan besarnya subsidi energi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi,” ujar Ibrahim mengutip laporan Bank Dunia.

Bank Dunia memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Namun tingkat inflasi diprakirakan akan tetap berada di rentang target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yaitu 2,5±1 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....