IHSG Ditutup Menguat 1,21 Persen ke Level 6.129 pada Perdagangan Selasa

  • 06 Okt 2026 17:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup menguat 1,21 persen ke level 6.129,92 pada akhir perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026.
  • Sektor transportasi dan logistik memimpin penguatan sebesar 3,16 persen, didukung sentimen positif bursa Asia.
  • Penurunan harga minyak dan bantuan sosial pemerintah menopang sentimen pasar, meski investor tetap mewaspadai inflasi pangan

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada akhir sesi II perdagangan. Indeks berada di level 6.129,92, naik pesat hingga 1,21 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat pada level 6.139 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 6.219. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak fluktuatif namun cenderung bertahan di zona positif.

Perdagangan saham kali ini mencatat volume sebesar 48 miliar saham. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp12 triliun, dengan frekuensi perdagangan sekitar 1,8 juta kali transaksi.

Sektor transportasi dan logistik memimpin penguatan sebesar 3,16 persen. Penguatan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa Asia yang mengikuti kinerja positif Wall Street.

Sentimen positif juga datang dari penurunan harga minyak di tengah meningkatnya pasokan Timur Tengah. Harga minyak Brent berada sekitar US$100 per barel setelah turun 1,9 persen.

Penurunan harga minyak mendorong selera risiko investor di tengah kekhawatiran terhadap tingginya imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut membantu menjaga momentum positif pasar saham regional.

Dari dalam negeri, pemerintah meningkatkan penyaluran bantuan sosial untuk menjaga daya beli rumah tangga. Langkah tersebut menjadi perhatian pasar menjelang periode akhir tahun.

“Pemerintah meningkatkan penyaluran bantuan sosial untuk menopang daya beli rumah tangga menjelang akhir tahun,” kata tim Pilarmas dalam risetnya, Selasa, 6 Oktober 2026. Sementara itu, perhatian investor beralih menuju pembukaan kembali pasar China pada Kamis.

China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia dan baru kembali beraktivitas setelah libur Golden Week. Pergerakan pasar China berpotensi memberikan sentimen tambahan bagi perdagangan domestik.

Namun, laju penguatan IHSG masih tertahan karena investor memilih bersikap hati-hati. Pasar menantikan sejumlah data domestik penting yang akan dirilis sepanjang pekan ini.

Data tersebut mencakup posisi cadangan devisa September dan indeks keyakinan konsumen. Investor juga mencermati tekanan inflasi pangan akibat gangguan panen dan cuaca ekstrem.

“Inflasi pangan masih tinggi akibat gangguan panen yang dipicu cuaca ekstrem, El Niño, dan bencana lokal,” kata tim Pilarmas. Tekanan tersebut menjadi salah satu risiko yang dapat memengaruhi sentimen pasar domestik.

Dari kawasan Asia, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tumbuh 4,5 persen pada 2026. Proyeksi itu menunjukkan kawasan tetap tangguh menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Bank Dunia juga memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi swasta dan belanja pemerintah.

Meski demikian, Bank Dunia menyoroti sejumlah tantangan yang masih membayangi perekonomian Indonesia. Pelemahan daya beli, indeks manufaktur, serta tekanan fiskal dan eksternal menjadi perhatia

Di pasar saham, sejumlah emiten menopang pergerakan indeks LQ45 sepanjang perdagangan. GOTO, AMMN, INDY, DEWA, dan MAPI menjadi saham yang mendominasi penguatan

Sebaliknya, BBCA, HRTA, TLKM, AMRT, dan ICBP menjadi saham yang paling menekan pergerakan LQ45. Pergerakan saham-saham tersebut berlangsung di tengah penguatan IHSG secara keseluruhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....