IHSG Ditutup Menguat 1,36 Persen, Sentimen Global Jadi Penopang
- 05 Okt 2026 18:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG menguat 1,36 persen ke level 6.118,86 pada penutupan perdagangan Senin, 5 Oktober 2026.
- Data pekerjaan AS yang melemah menjadi sentimen positif karena mengurangi tekanan bagi The Fed memperketat kebijakan moneter.
- Risiko eksternal dan inflasi domestik tetap dicermati, terutama pelemahan rupiah, harga minyak tinggi, dan inflasi September 3,28 persen.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Pada akhir sesi II, IHSG berada di level 6.118,86 atau naik 81,97 poin atau 1,36 persen.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat pada level 6.055,15 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 6.119,22. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak fluktuatif namun cenderung bertahan di zona positif.
Sebanyak 524 saham menguat, sementara 162 saham melemah dan 107 saham lainnya stagnan. Penguatan IHSG tersebut turut ditopang sentimen eksternal dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan bursa regional Asia.
Tim Analis Pilarmas Investindo menilai data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melemah menjadi katalis positif bagi pasar. Kondisi tersebut dinilai mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneter.
"Data pekerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah mengurangi tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneter. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan bulan ini," kata Tim Analis Pilarmas Investindo.
| Baca juga: IHSG Dibuka Naik 18,26 Poin ke Level 6.055 |
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan penambahan pekerjaan September hanya 29 ribu, jauh di bawah ekspektasi 90 ribu. Tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 4,2 persen, sedangkan pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi tiga persen.
Sentimen tersebut kemudian turut mendorong penguatan bursa regional Asia dan memberikan ruang positif bagi IHSG. Namun, pelaku pasar tetap mencermati tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta harga minyak dunia.
Dari dalam negeri, pergerakan IHSG juga dipengaruhi pelemahan rupiah dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Meski imbal hasil Treasury AS menurun, level tersebut masih dinilai tinggi oleh pelaku pasar.
Tim Analis Pilarmas Investindo menyebut imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun sekitar 5,25 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun merosot menuju 5,6 persen, meski masih berada pada level tinggi.
"Tekanan eksternal Indonesia masih menjadi perhatian meskipun surplus perdagangan Agustus tercatat positif. Risiko inflasi juga meningkat setelah inflasi September mencapai 3,28 persen," kata Tim Analis Pilarmas Investindo.
Inflasi September tersebut semakin mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia sebesar 3,5 persen. Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap mencermati risiko inflasi di tengah ketegangan Timur Tengah yang berkelanjutan.
Harga minyak dunia yang masih tinggi turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi domestik. Dengan kondisi tersebut, sentimen global dan domestik diperkirakan tetap memengaruhi pergerakan IHSG berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....