Pasar Cermati Laju Inflasi, IHSG Hari Ini Diprakirakan Melemah
- 02 Okt 2026 08:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari ini IHSG diperkirakan akan uji level psikologis kembali di level 6.000
- Pasar mencermati data inflasi yang dirilis Badan Pusat Statistik ( BPS). Secara tahunan, inflasi bulan September tercatat 3,28 persen
- Kenaikan inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,37 persen
RRI.CO.ID, Jakarta - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemungkinan masih lesu hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan akan melemah dan menguji level krusial 6.000
Pada penutupan perdagangan hari Kamis kemarin IHSG ditutup melemah 1,02 persen ke level 6.009. Pelemahan IHSG masih disertai aksi jual saham oleh investor asing dengan net sell sebesar Rp240,43 miliar.
Saham-saham yang paling banyak dijual asing adalah saham BMRI, GOTO, BBRI, MDKA dan BBCA. "Hari ini IHSG diperkirakan akan uji level psikologis kembali di level 6.000," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Jumat, 2 Oktober 2026.
Jika IHSG ditutup di bawah level tersebut, maka berpotensi akan menguji level berikutnya di 5.800-5.900. Menurut Tim Phintraco, pasar mencermati data inflasi yang dirilis Badan Pusat Statistik ( BPS).
Secara tahunan, inflasi bulan September tercatat 3,28 persen, meningkat dari 3,19 persen di bulan Agustus. Secara bulanan, inflasi September sebesar 0,30 persen dan inflasi inti secara tahunan sebesar 2,84 persen.
Kenaikan inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,37 persen. "Meskipun inflasi headline meningkat, inflasi inti masih relatif terkendali," ucap Tim Phintraco.
Hal tersebut menunjukkan tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat. Sehingga diperkirakan inflasi ini belum memberikan tekanan besar bagi Bank Indonesia untuk mengetatkan kebijakan moneter.
"Namun, kenaikan harga pangan perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko tekanan inflasi ke depan. Dampak inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya daya beli konsumen," ujar Tim Phintraco.
Pasar juga masih mencermati perkembangan perdagangan luar negeri Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026, tercatat surplus USD3,55 miliar.
Surplus neraca perdagangan meningkat tajam dibandingkan Juli 2026 yang tercatat hanya USD120 juta. Surplus bulan Agustus ditopang ekspor sebesar USD26,61 miliar, tumbuh 6,72 persen secara tahunan.
Sedangkan impor mencapai USD23,06 miliar, tumbuh 19,09 persen. Surplus terutama berasal dari sektor nonmigas, khususnya produk logam dan komoditas berbasis hilirisasi.
"Tapi pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor ini perlu dicermati. Karena dapat mempersempit surplus ke depan, terutama jika permintaan global dan harga komoditas melemah," kata Tim Phintraco menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....