IHSG Ditutup Melemah 0,43 Persen ke Level 6.121
- 29 Sep 2026 16:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG mengakhiri perdagangan dalam zona merah dengan terkoreksi 26,16 poin atau 0,43 persen ke level 6.121,70.
- Indeks bergerak fluktuatif sepanjang hari perdagangan dengan level tertinggi mencapai 6.150,55 dan terendah 6.013,07.
- Pembukaan IHSG pada level 6.118,80 menunjukkan indeks mulai dari posisi mendekati penutupan akhir hari.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari ini di zona merah. IHSG terkoreksi 26,16 poin atau 0,43 persen ke level 6.121,70.
IHSG dibuka pada level 6.118,80 dan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.150,55 dan level terendah 6.013,07.
Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp12,744 triliun dengan volume 37,838 miliar saham. Sebanyak 303 saham menguat, 373 saham melemah, dan 118 saham bergerak stagnan.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan dari kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap prospek inflasi dan kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Phintraco Sekuritas menilai kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kembali risiko inflasi. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi ruang Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
"Meningkatnya kembali harga minyak di tengah ketidakpastian kapan konflik di Timur Tengah akan segera berakhir. Telah meningkatkan risiko akan naiknya kembali laju inflasi," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Selasa, 29 September 2026.
"Hal tersebut membuat Bank Indonesia masih mempertahankan BI Rate pada level 5.75% saat ini," ujar Phintraco. Bank Indonesia juga menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendorong aliran modal masuk.
Dari pasar global, investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Imbal hasil obligasi AS tenor sepuluh tahun naik lebih dari lima basis poin menjadi 5,234 persen di tengah kekhawatiran terhadap inflasi.
Harga minyak Brent juga masih berada di level tinggi, meski turun dari posisi tertingginya. Brent ditutup di level 105 dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat menyentuh 108 dolar AS per barel.
Kondisi pasar global turut dipengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed. Investor akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat pekan ini, termasuk indeks PCE dan data ketenagakerjaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....