IHSG Melemah 0,21 Persen ke Level 6.134 Jeda Siang Perdagangan Hari ini

  • 29 Sep 2026 14:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup sesi I di level 6.134,99 atau melemah 0,21 persen.
  • IHSG berpotensi menguji support 6.000–6.100 setelah bergerak di bawah level 6.200.
  • Sentimen global, kenaikan harga energi, sinyal suku bunga The Fed, dan net sell asing Rp1,3 triliun menekan IHSG.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir sesi I perdagangan. Indeks turun ke level 6.134,99 atau turun 0,21 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya.

Indeks terpantau bergerak di zona merah sepanjang sesi I. Dengan posisi tertingginya di level 6.151 dan terendahnya di 6.013 menurut data RTI hingga pukul 12.00 WIB.

Perdagangan saham kali ini mencatat volume sebesar 24,2 miliar saham. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp8,1 triliun, dengan frekuensi perdagangan sekitar 1,1 juta kali transaksi.

Secara teknikal, indikator MACD dan Stochastic RSI mengindikasikan ada potensi pelemahan IHSG lebih lanjut setelah ditutup di bawah support 6.200. "Diperkirakan IHSG akan menguji level support berikutnya di 6.000-6.100," kata tim Phintraco dalam risetnya, Selasa, 29 September 2026.

Kekhawatiran terhadap inflasi akibat harga energi memicu aksi jual besar-besaran obligasi pemerintah AS. Ditambah sinyal kenaikan suku bunga The Fed, Senin kemarin, net sell asing tercatat mencapai Rp1,3 trilliun.

Selama pekan ini, investor akan mencermati data-data penting yang mempengaruhi prospek kebijakan moneter The Fed. Seperti diantaranya data indeks Price Consumer Index (PCE) Rabu besok sebagai indikator inflasi.

Sementara dari dalam negeri, pelmahan bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan baru BEI pada Senin kemarin. Kebijakan tersebut meliputi penurunan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan pasar tunai.

Selain itu, meningkatnya kembali harga minyak di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah juga ikut meningkatkan risiko terhadap naiknya kembali laju inflasi. "Apabila inflasi meningkat di atas target Bank Indonesia (BI), dikhawatirkan suku bunga acuan harus dinaikkan," kata tim Phintraco.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....