IHSG Terkoreksi 0,47 Persen ke Level 6.118 pada Pembukaan Perdagangan

  • 29 Sep 2026 09:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka di level 6.118,8, sementara secara teknikal masih berpotensi melemah terbatas.
  • Pilarmas mencermati prospek pertumbuhan ekonomi 2027 yang ditopang investasi dan ekspor.
  • Ketidakpastian global, harga minyak, inflasi, serta suku bunga tinggi menjadi risiko perekonomian.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG berada pada level 6.118,8 atau naik 29,05 poin (0,47 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pergerakan tersebut berlangsung setelah IHSG pada perdagangan Senin ditutup melemah 1,51 persen ke level 6.147. Pelemahan tersebut juga disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp259,83 miliar pada perdagangan sebelumnya.

Saham yang paling banyak dijual investor asing antara lain BMRI, TLKM, TINS, AMTN, dan MDKA. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam memproyeksikan pergerakan IHSG hari ini.

"Berdasarkan analisa teknikal kami, hari ini IHSG masih berpotensi melemah terbatas," kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Selasa, 29 September 2026. IHSG diprakirakan bergerak pada rentang 6.050 sebagai level support dan 6.250 sebagai level resistansi.

Selain faktor teknikal, Tim Pilarmas mencermati prospek perekonomian Indonesia pada 2027 yang dipaparkan Bank Indonesia. Gubernur BI, Destry Damayanti, menyampaikan proyeksi tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin, 28 September 2026.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 mencapai 5,2 hingga 6 persen. Proyeksi tersebut meningkat dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 4,9 hingga 5,7 persen.

"Gubernur BI Destry Damayanti menilai investasi, khususnya investasi pemerintah, perlu diperkuat untuk menopang pertumbuhan. Menurut Destry, investasi saat ini masih banyak yang berasal dari proyek yang terkait pemerintah," ujar Tim Pilarmas.

Bank Indonesia juga memprakirakan investasi tumbuh sebesar 6,3 hingga 7,1 persen pada 2027. Bank Indonesia berharap investasi swasta, termasuk melalui Danantara, meningkat dan memperkuat perekonomian domestik.

"Proyeksi BI menunjukkan investasi akan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027. Namun, ketergantungan investasi terhadap proyek yang berkaitan dengan proyek pemerintah, menjadi tantangan," ucap Tim Pilarmas.

Dari sisi sektor riil, peningkatan investasi berpotensi mendorong belanja modal, pembangunan infrastruktur, serta permintaan barang modal. Aktivitas industri dan konstruksi juga berpotensi meningkat seiring dengan penguatan investasi tersebut.

Pertumbuhan ekspor yang diproyeksikan mencapai 5,9 hingga 6,7 persen juga menjadi tambahan penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi tersebut dinilai dapat memperkuat aktivitas ekonomi apabila didukung realisasi investasi yang sesuai dengan target.

"Secara keseluruhan, target pertumbuhan hingga 6 persen pada 2027 menunjukkan BI melihat ruang akselerasi ekonomi masih cukup besar. Tetapi realisasinya akan bergantung pada efektivitas belanja pemerintah, kemampuan menarik investasi swasta, serta implementasi proyek-proyek strategis," kata Tim Pilarmas.

Menurut Tim Pilarmas, pertumbuhan ekonomi berisiko tetap bergantung pada stimulus pemerintah apabila investasi swasta belum menunjukkan penguatan. Di sisi lain, kondisi perekonomian global hingga akhir tahun masih menghadapi sejumlah ketidakpastian.

Ketidakpastian tersebut dipengaruhi konflik geopolitik, kenaikan harga minyak yang memicu inflasi, serta kebijakan moneter ketat. Suku bunga global yang masih tinggi juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan terhadap perekonomian Indonesia.

Meski demikian, perekonomian Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang cukup baik. Perkembangan ekonomi global tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian domestik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....