Mengenal Saham Google (GOOGL), Bisnis Alphabet, Pendapatan, dan Prospeknya
- 28 Sep 2026 00:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Google menjadi salah satu perusahaan teknologi yang menguasai bisnis pencarian, iklan digital, YouTube, Android, dan layanan cloud.
- Di balik berbagai layanan tersebut, Alphabet Inc. menjadi perusahaan induknya sekaligus entitas yang sahamnya diperdagangkan di Nasdaq.
- Alphabet merupakan perusahaan induk yang menaungi Google dan berbagai bisnis lainnya.
RRI.CO.ID, Jakarta - Google menjadi salah satu perusahaan teknologi yang menguasai bisnis pencarian, iklan digital, YouTube, Android, dan layanan cloud. Di balik berbagai layanan tersebut, Alphabet Inc. menjadi perusahaan induknya sekaligus entitas yang sahamnya diperdagangkan di Nasdaq.
Salah satu aplikasi yang menyediakan saham Google adalah Pintu. Melalui fitur tokenized stocks maka kamu bisa membeli saham Google secara terpecah. Artinya kamu bisa membeli saham tersebut dengan murah, karena tidak harus membeli saham secara penuh.
Namun sebelum membeli saham tersebut, tentunya kamu harus memahami fundamental apa itu Google? Alphabet Inc. membawahi Google dan sejumlah bisnis teknologi lainnya, sehingga kinerja perusahaan tidak hanya bergantung pada mesin pencari.
Selain iklan, Alphabet terus mengembangkan Google Cloud, kecerdasan buatan, perangkat keras, serta berbagai proyek teknologi. Dengan demikian, perubahan strategi pada setiap segmen dapat memengaruhi pendapatan dan kinerja saham perusahaan.
Saham Google merupakan saham Class A Alphabet Inc. yang diperdagangkan di Nasdaq dengan ticker GOOGL. Alphabet juga memiliki saham Class C dengan ticker GOOG. Perbedaan utama keduanya terletak pada hak suara, karena saham Class A memiliki hak suara, sedangkan saham Class C tidak memiliki hak suara.
Apa Itu Saham Google (GOOGL)?
Saham GOOGL adalah saham Class A Alphabet Inc. yang memberikan hak suara kepada pemegangnya. Sementara itu, GOOG merupakan saham Class C yang tidak memberikan hak suara. Keduanya diperdagangkan di Nasdaq.
Alphabet membentuk struktur ketika perusahaan melakukan reorganisasi pada 2015. Melalui struktur holding company, Google dapat tetap fokus mengembangkan bisnis internet dan teknologi, sedangkan Alphabet dapat mengelola berbagai bisnis serta proyek yang berada di luar operasi utama Google.
Dengan struktur tersebut, ketika investor membeli GOOGL, investor sebenarnya membeli saham Alphabet. Oleh karena itu, kinerja saham GOOGL mencerminkan kinerja Alphabet secara keseluruhan, meskipun Google tetap menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan.
Struktur Perusahaan Alphabet Inc.
Alphabet merupakan perusahaan induk yang menaungi Google dan berbagai bisnis lainnya. Google sendiri menjalankan Google Services, yang mencakup Search, YouTube, Android, Chrome, Maps, Google Play, perangkat, serta berbagai layanan berlangganan.
Selain itu, Alphabet menjalankan Google Cloud yang menyediakan infrastruktur cloud, platform, aplikasi, serta layanan untuk pelanggan perusahaan. Alphabet juga memiliki segmen Other Bets yang mencakup sejumlah bisnis dan proyek teknologi di luar bisnis utama Google.
Struktur tersebut membuat Alphabet memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam. Namun, Google Services tetap menjadi kontributor terbesar. Dalam laporan kuartal kedua 2025, misalnya, Google Services menghasilkan pendapatan US$82,54 miliar, sedangkan Google Cloud menghasilkan US$13,62 miliar.
Sumber Pendapatan Utama Alphabet
Alphabet memperoleh sebagian besar pendapatannya dari Google Services, terutama iklan. Google menampilkan iklan melalui Search, YouTube, serta berbagai layanan lainnya. Model tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh pendapatan dari aktivitas pengguna.
Selain iklan, Alphabet memperoleh pendapatan dari layanan berlangganan. Produk seperti YouTube Premium, YouTube Music, Google One, dan layanan lainnya memberikan sumber pendapatan berulang sehingga perusahaan tidak hanya bergantung pada iklan.
Google Cloud juga semakin penting bagi Alphabet. Segmen tersebut memperoleh pendapatan dari layanan infrastruktur, platform, aplikasi, Google Workspace, serta layanan perusahaan lainnya. Pada kuartal kedua 2025, Google Cloud mencatat pendapatan US$13,62 miliar, naik dari US$10,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Faktor yang Mendorong Kinerja Saham GOOGL
1. Pendapatan Iklan
Bisnis iklan tetap menjadi salah satu penggerak utama Alphabet karena Google memiliki basis pengguna yang sangat besar. Mesin pencari Google masih memiliki posisi dominan di banyak negara, sehingga perusahaan dapat menghubungkan pengguna dengan pengiklan dalam skala besar.
Di Indonesia, misalnya, Google mencatat pangsa sekitar 93,07% dari pasar mesin pencari pada Agustus 2026 menurut StatCounter. Data tersebut menunjukkan kuatnya posisi Google di pasar pencarian Indonesia, meskipun pangsa pasar dapat berbeda berdasarkan negara dan perangkat.
Karena itu, perubahan perilaku pengguna, teknologi pencarian, serta perkembangan AI dapat memengaruhi cara Alphabet menghasilkan pendapatan iklan.
2. Pertumbuhan Google Cloud
Google Cloud menjadi sumber pertumbuhan penting karena perusahaan dan organisasi terus menggunakan komputasi awan untuk menyimpan data, menjalankan aplikasi, dan mengembangkan AI.
Pada kuartal kedua 2025, Google Cloud mencatat pendapatan US$13,62 miliar dan laba operasi US$2,83 miliar. Angka tersebut meningkat dari pendapatan US$10,35 miliar dan laba operasi US$1,17 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut membuat investor semakin memperhatikan kemampuan Cloud dalam meningkatkan kontribusi terhadap bisnis Alphabet.
3. Integrasi Teknologi AI
Alphabet juga mengembangkan AI melalui berbagai produk dan infrastrukturnya. Google mengintegrasikan AI ke Search, sementara perusahaan juga mengembangkan model Gemini serta teknologi komputasi yang mendukung berbagai aplikasi AI.
Investasi tersebut dapat menciptakan peluang baru, tetapi sekaligus membutuhkan belanja modal dan biaya penelitian yang besar. Karena itu, investor perlu melihat hubungan antara investasi AI, pertumbuhan pendapatan, dan profitabilitas perusahaan.
Risiko Investasi Saham Google
Walaupun Alphabet memiliki bisnis yang besar, saham GOOGL tetap menghadapi risiko. Salah satunya berasal dari perubahan teknologi pencarian akibat perkembangan AI. Jika pengguna mengubah cara mereka mencari informasi, model bisnis iklan Search juga dapat mengalami perubahan.
Selain itu, Alphabet menghadapi risiko regulasi dan antitrust. Pemerintah serta regulator di sejumlah wilayah terus mengawasi perusahaan teknologi besar, termasuk praktik bisnis Google.
Perubahan regulasi dapat mempengaruhi cara perusahaan menjalankan produk, kontrak, distribusi layanan, atau monetisasi iklan.
Persaingan juga menjadi faktor penting. Alphabet bersaing dengan perusahaan seperti Microsoft, Amazon, Meta, dan berbagai perusahaan AI lainnya dalam bidang cloud, iklan digital, pencarian, dan kecerdasan buatan.
Apakah Bisa Membeli Saham Google?
Investor Indonesia dapat memperoleh eksposur terhadap Alphabet melalui broker atau platform investasi yang menyediakan akses ke saham Amerika Serikat. Investor dapat mencari ticker GOOGL untuk Class A atau GOOG untuk Class C, kemudian melakukan pembelian sesuai mekanisme platform.
Selain membeli saham secara langsung melalui broker, investor juga dapat menemukan produk yang memberikan eksposur terhadap saham AS dalam bentuk lain, seperti fractional shares atau tokenized stocks. Namun, masing-masing produk memiliki struktur kepemilikan dan hak investor yang berbeda.
Karena itu, sebelum melakukan transaksi, investor sebaiknya memeriksa biaya, regulasi, mekanisme penyimpanan aset, risiko nilai tukar, serta jenis instrumen yang sebenarnya dibeli.
Mempertimbangkan Saham GOOGL dalam Portofolio
GOOGL memberikan eksposur terhadap Alphabet, yang memiliki bisnis besar di pencarian, iklan digital, YouTube, Cloud, Android, dan AI. Selain itu, Alphabet terus mengembangkan teknologi baru sehingga sumber pertumbuhannya tidak hanya berasal dari satu produk.
Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko persaingan, perubahan teknologi, regulasi, belanja modal, serta ketergantungan terhadap pendapatan iklan. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya berdasarkan riset terhadap kondisi perusahaan dan tujuan portofolio masing-masing.
Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.
Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....