IHSG Menguat 0,12 Persen ke 6.392, Turunnya Harga Minyak Jadi Katalis Positif
- 22 Sep 2026 12:03 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka naik 0,12 persen ke level 6.392,33 pada perdagangan Selasa, 22 September 2026.
- Aksi jual asing sebelumnya mencapai Rp503,12 miliar, sementara IHSG diperkirakan bergerak di 6.300-6.500.
- Penurunan harga minyak, perubahan aturan DINFRA, dan percepatan bioetanol menjadi sentimen pasar.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka menguat tipis pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. IHSG berada di level 6.392,33, naik sekitar 7,61 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Pada Senin kemarin, IHSG ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73. Pelemahan tersebut disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp503,12 miliar.
Sejumlah saham menjadi sasaran aksi jual investor asing. Saham tersebut antara lain AMMN, TPIA, BRPT, COIN, dan CUAN.
Secara teknikal, analis memprakirakan IHSG diperkirakan berada dalam rentang 6.300 hingga 6.500. Turunnya harga minyak dan penguatan indeks bursa global menjadi katalis positif dan berpotensi membatasi pelemahan indeks.
"IHSG masih di atas level MA100, namun pelebaran Stochastic RSI berpotensi membentuk Death Cross di area oversold. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6,300-6,350 pada perdagangan Selasa," kata tim Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Penurunan harga minyak dalam empat hari terakhir ini disebabkan kekhawatiran mengenai pasokan dari Timur Tengah mulai mereda. Minyak WTI mengalami penurunan hingga berada di level 95.29 dollar AS per barel, sedangkan Brent masih berada di kisaran 100.34 dollar AS per barrel.
Meningkatnya volume pengiriman minyak dari dalam Teluk Persia terus mengalami peningkatan selama akhir pekan kemarin. Hal ini memberikan indikasi, bahwa Arab Saudi telah mengalihkan ekspor kembali ke Selat Hormuz.
BEI menyesuaikan ketentuan batasan harga terendah minimun Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026. Penyesuaian tersebut diikuti perubahan ketentuan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB).
"Pemberlakuan tersebut berdampak positif dalam meningkatkan likuiditas pasar, mengoptimalkan mekanisme pembentukan harga yang wajar (price discovery). Membuka jalan keluar bagi investor yang modalnya terjebak menahun di saham yang ARB pada level Rp50 dalam waktu lama," kata tim Phintraco.
Di sisi lain, kebijakan ini juga membawa dampak negatif berupa risiko kerugian modal (capital loss) yang besar. Adapun tingginya volatilitas spekulatif saham di bawah Rp50/saham, serta potensi jebakan ilusi harga murah bagi investor ritel pemula.
Dari dalam negeri, pemerintah mempercepat pengembangan bioetanol untuk mencapai bauran bensin E20 dalam dua tahun dan menuju E50. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperkirakan program ini dapat menciptakan hingga 8 juta lapangan kerja permanen.
Percepatan program ini dapat menjadi sentimen positif bagi emiten. Utamanya yang memiliki eksposur pada tebu, jagung, singkong, energi terbarukan, dan infrastruktur pendukung biofuel.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....