Bergerak di Zona Merah, IHSG Turun ke Level 6589,34 pada Penutupan Perdagangan
- 10 Sep 2026 16:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup menguat 88,86 poin atau 1,33 persen ke level 6.589,34 pada perdagangan Kamis, 10 September 2026
- Kenaikan harga minyak mentah global dan ketegangan Amerika Serikat-Iran menjadi sentimen negatif bagi pasar saham
- Sentimen domestik turut ditopang kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen menjadi 118,5 pada Agustus 2026
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada penutupan sesi perdagangan Kamis 10 September 2026. Indeks ditutup pada posisi 6589,34 atau turun 88,86 poin (1,33 persen).
Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. IHSG dibuka pada level 6688,17 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 6712,5.
Mayoritas saham mengalami penurunan. Tercatat sebanyak 516 saham turun, sementara 150 saham naik, dan 127 saham stagnan.
Sementara itu, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai Rp21,04 triliun. Sedangkan volume saham yang diperdagangkan mencapai 47,115 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 2,644 juta kali transaksi.
Tekanan pasar turut dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harga minyak mentah Brent bahkan menembus level USD100 per barel di tengah eskalasi tersebut.
| Baca juga: IHSG Melemah 0,14 Persen pada Jeda Siang |
Tim Analis Phintraco Sekuritas sebelumnya memperkirakan pergerakan IHSG cenderung terbatas pada perdagangan. “Secara teknikal, IHSG diprakirakan bergerak sideways pada kisaran 6.600-6.700.”
Tim Phintraco juga mencatat kenaikan harga minyak mentah sebagai salah satu sentimen negatif bagi pergerakan pasar saham. Ini karena investor mencermati eskalasi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Dari dalam negeri, sentimen positif berasal dari peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada Agustus 2026. Indeks tersebut meningkat menjadi 118,5 dari posisi 116,8 pada Juli 2026.
Kenaikan itu menjadi yang pertama dalam empat bulan terakhir, didukung membaiknya penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi. Ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan juga turut mengalami peningkatan pada periode tersebut.
Pada Juli 2026, IPR tumbuh sebesar 1,1 persen secara tahunan. Ini berarti naik dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 3,0 persen.
Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan pertumbuhan penjualan secara tahunan pada kelompok tertentu. Misalnya kelompok makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok barang lainnya.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2026 terkontraksi sebesar 0,1 persen. Hal ini dipengaruhi normalisasi permintaan pascaperiode Hari Besar Keagamaan Nasional dan libur sekolah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....