Sarjito Targetkan Indonesia Jadi Penentu Harga Komoditas Strategis Dunia

  • 10 Sep 2026 08:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sarjito menargetkan Indonesia menjadi penentu harga komoditas strategis dunia.
  • Bursa komoditas nasional diarahkan mengubah posisi Indonesia dari price taker menjadi price maker.
  • Pencatatan transaksi di bursa diharapkan memperkuat pengawasan harga, volume, dan penerimaan negara.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) OJK, Sarjito, menargetkan Indonesia menjadi penentu harga komoditas strategis dunia. Target tersebut akan ditempuh melalui pembentukan bursa komoditas nasional yang mampu menjadi referensi harga.

Sarjito menilai Indonesia selama ini memiliki posisi kuat sebagai salah satu penghasil mineral terbesar dunia. Namun, Indonesia belum memiliki kemampuan menentukan harga komoditas karena masih mengacu pada harga yang ditetapkan pihak lain.

"Kita itu sebagai penghasil, contoh nikel terbesar di dunia, tetapi kita tidak pernah bisa menentukan harganya. Harganya ditentukan oleh pihak-pihak lain, dan itu ironi," ujar Sarjito usai dilantik sebagai Kepala Eksekutif Pengawas BMKS OJK di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu, 9 September 2026.

Menurut Sarjito, keberadaan bursa komoditas nasional menjadi langkah untuk mengubah posisi Indonesia dalam pembentukan harga. Perubahan tersebut akan dilakukan secara bertahap hingga Indonesia mampu memiliki kapasitas sebagai pembentuk harga.

"Paling tidak untuk awal tidak lagi menjadi price taker tapi bisa menjadi price influencer dan menjadi bursa reference. Dan at the end kita tentu harus sanggup dan mampu confident untuk menjadi price maker," katanya.

Sarjito mengatakan pembentukan bursa komoditas juga berkaitan dengan penguatan pengawasan terhadap transaksi komoditas nasional. Pencatatan transaksi melalui bursa dinilai dapat membantu pemerintah memantau harga dan volume perdagangan secara lebih transparan.

Menurutnya, sistem tersebut juga dapat memperkuat pengawasan terhadap potensi praktik transfer pricing dan under-invoicing. Pengawasan mencakup aspek harga maupun volume transaksi komoditas yang diperdagangkan.

"Sehingga di dalam banyak kesempatan juga isu mengenai transfer pricing, under-invoicing, baik harga dan volume bisa kita kontrol dengan baik. Sehingga pada akhirnya, semua transaksi akan menjadi referensinya di dalam bursa," katanya.

Sarjito berharap mekanisme bursa komoditas nasional dapat membuat nilai transaksi Indonesia tercatat secara lebih optimal. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari perdagangan komoditas strategis diharapkan semakin besar bagi negara dan masyarakat.

"InsyaAllah negara kita menjadi makmur, not only beberapa pihak, tetapi adalah rakyat Indonesia. Karena tentu saja, devisa dan juga pajak akan masuk secara proporsional dan profesional," ucap Sarjito.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....