IHSG Ditutup Menguat di Level 6.599,94 Hari Ini

  • 01 Sep 2026 16:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup menguat sebesar 74,46 poin (1,14 persen) di level 6.599,94 pada Selasa, 1 September 2026.
  • Pergerakan pasar didominasi oleh 407 saham yang naik, 215 saham turun, dan 169 saham stagnan.
  • Nilai transaksi perdagangan mencapai 19,9 triliun rupiah pada hari tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukan penguatan pada penutupan sesi perdagangan Selasa, 1 September 2026. IHSG ditutup pada posisi 6.599,94 atau naik 74,46 poin (1,14 persen) setelah dibuka di level 6.538,12.

Pergerakan IHSG didominasi 407 saham naik, 215 saham turun, dan 169 saham tidak berubah atau stagnan. Sementara aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi sebesar 19,9 triliun.

Volume saham yang diperdagangkan tercatat sebanyak 51,45 miliar lembar. Sedangkan frekuensi perdagangan mencapai lebih dari 2,63 juta kali transaksi.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG berlangsung di tengah tekanan bursa regional Asia akibat meningkatnya risiko geopolitik. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran mendorong kekhawatiran terhadap harga minyak, inflasi, serta arah kebijakan suku bunga global.

Penguatan IHSG tampaknya ditopang hasil Rapat Paripurna DPR RI yang mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031. Pengesahan tersebut dinilai memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat arah kebijakan moneter nasional.

“Pengesahan tersebut tentunya memberikan kepastian hukum dan arah kebijakan moneter yang kuat. Sehingga memberikan sinyal menjaga stabilitas, meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing, dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa, 1 September 2026.

Menurut Tim Pilarmas, kepastian kepemimpinan Bank Indonesia menjadi sentimen positif bagi pasar domestik. Kondisi tersebut dinilai penting ketika pasar keuangan global masih menghadapi tekanan akibat perkembangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter.

Di sisi lain, bursa regional Asia bergerak melemah akibat meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dengan Iran. Eskalasi konflik tersebut meningkatkan risiko geopolitik sekaligus mendorong harga minyak lebih tinggi.

Kenaikan harga minyak turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan kemungkinan pengetatan moneter lebih lanjut. Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi arah kebijakan bank sentral global.

Tim Pilarmas juga mencermati perkembangan konflik Timur Tengah yang kembali meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasar. Serangan Amerika Serikat di sebuah pulau Selat Hormuz kemudian dibalas Iran melalui serangan terhadap Uni Emirat Arab dan Yordania.

Situasi tersebut menandai kembali berlangsungnya pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran setelah sekitar satu bulan. Kondisi geopolitik tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar melalui pergerakan harga energi.

Selain konflik geopolitik, pasar global juga mencermati pernyataan Ketua The Fed Warsh mengenai arah kebijakan suku bunga. Warsh menyatakan masih terdapat banyak pekerjaan sebelum terdapat bukti lebih jelas inflasi bergerak menuju target dua persen.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai lebih dari 65 persen. Ekspektasi tersebut meningkat dibandingkan sekitar 36 persen sebelum pernyataan tersebut disampaikan.

Dari dalam negeri, Tim Pilarmas turut mencermati aktivitas manufaktur Indonesia yang mengalami perlambatan pada Agustus 2026. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Global S&P Indonesia turun menjadi 49,8 dari 50,2 pada Juli.

Penurunan tersebut membawa aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi. Kondisi itu menjadi salah satu sentimen yang tetap diperhatikan pelaku pasar terhadap prospek perekonomian nasional.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,19 persen dan masih berada dalam sasaran Bank Indonesia.

Tim Pilarmas menilai kondisi inflasi tersebut menunjukkan konsistensi kebijakan moneter serta sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah. Stabilitas inflasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional.

“Terjaganya dalam kisaran sasaran tersebut merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter. Serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah,” kata Tim Pilarmas.

Selanjutnya, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 membukukan surplus sebesar 120 juta dolar AS. Posisi tersebut berbalik dari defisit yang tercatat pada perdagangan Juni 2026.

Menurut Tim Pilarmas, surplus neraca perdagangan dapat menopang sekaligus memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif ketika pasar masih menghadapi tekanan dari perkembangan ekonomi global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....