Dibuka Menguat 13,1 Poin ke Level 6.538, Pergerakan IHSG Masih Dibayangi Nett Sell

  • 01 Sep 2026 10:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka menguat pada perdagangan Selasa, 1 September 2026 di level 6.538,12, mengalami kenaikan 13,1 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan Senin.
  • Dalam awal perdagangan, IHSG mencapai level tertinggi 6.560,15 dengan level terendah berada di 6.535,79.
  • Pergerakan positif IHSG menunjukkan optimisme di pasar modal Indonesia pada awal minggu perdagangan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Selasa, 1 September 2026. IHSG dibuka di level 6.538,12, naik sekitar 13,1 poin (0,20 persen) dibandingkan penutupan perdagangan Senin di level 6.525.

Berdasarkan data pada awal perdagangan, IHSG bergerak naik hingga 6.560,15. Sementara level terendah berada di 6.535,79.

Aktivitas perdagangan mencatat volume sekitar 2,66 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,06 triliun. Sebanyak 336 saham menguat, 147 saham melemah, dan 224 saham lainnya belum mengalami perubahan.

Meski menguat, perdagangan saham pada akhir Agustus masih dibayangi aksi jual investor asing. Investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp710,56 miliar.

Sejumlah saham yang paling banyak dijual investor asing antara lain CPIN, EMAS, BUKA, UNVR, dan ASII. Phintraco Sekuritas memprakirakan IHSG pada perdagangan Selasa masih akan bergerak konsolidasi.

"Untuk hari ini, secara teknikal IHSG diprakirakan akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Selasa, 1 September 2026. Phintraco juga mencatat kinerja IHSG sepanjang Agustus 2026 masih positif.

IHSG naik 4,64 persen secara bulanan. Namun, secara tahun berjalan atau Januari-Agustus 2026, IHSG masih terkoreksi 24,53 persen.

Perhatian pelaku pasar hari ini salah satunya tertuju pada rilis data inflasi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Phintraco memperkirakan terjadi inflasi bulanan sebesar 0,2 persen pada Agustus 2026.

Proyeksi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi Juli 2026 yang mencatat deflasi sebesar 0,14 persen. "Sehingga estimasinya, inflasi tahunan di bulan Agustus 2026 naik menjadi 3,13 persen, dari 2,88 persen di bulan Juli," ujar Tim Analis Phintraco.

Selain inflasi, pasar juga akan mencermati data neraca perdagangan Indonesia. Phintraco memperkirakan neraca perdagangan Juli 2026 mencatat defisit sekitar 300 juta dolar AS, lebih kecil dibandingkan pada Juni.

Dari pasar global, investor juga mencermati perkembangan geopolitik yang berdampak terhadap harga komoditas, terutama minyak dunia. "Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, berpotensi akan kembali mendorong kenaikan laju inflasi," kata Tim Analis Phintraco.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global. "Hal ini semakin meningkatkan ekspektasi The Fed akan meningkatkan suku bunga pada bulan September," ujar Phintraco..

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....