Hari Ini Rupiah Dibuka Stagnan dengan Potensi Menguat Terbatas

  • 01 Sep 2026 10:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.722 per dolar AS hari ini. Dari pantauan di Bloomberg pada pukul 09.50 WIB, tidak terjadi perubahan signifikan rupiah terhadap dolar AS
  • Analis Pasar Uang menyebutkan rupiah diperkirakan dibuka datar dengan potensi menguat terbatas
  • Pelaku pasar menunggu sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis hari ini

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.722 per dolar AS, hari ini. Dari pantauan di Bloomberg pada pukul 09.50 WIB, tidak terjadi perubahan signifikan rupiah terhadap dolar AS.

Pada Senin kemarin, rupiah ditutup turun 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.722 per USD. Pergerakan rupiah yang cenderung stagnan saat pembukaan sudah diprakirakan para analis pasar uang.

"Rupiah diperkirakan dibuka datar dengan potensi menguat terbatas," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Selasa, 1 September 2026. Sementara itu, tambah Lukman, indeks dolar AS terkoreksi dipengaruhi sikap 'wait and see' pelaku pasar.

Indeks dolar AS hari ini diprakirakan bergerak di kisaran 99,37 hingga 99,4. "Rupiah diprakirakan akan bergerak di kisaran Rp17.650-Rp17.800 per dolar AS," ujar Lukman.

Menurutnya, pelaku pasar menunggu sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis hari ini. Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan merilis data inflasi bulan Agustus dan neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Juli 2026.

Sementara itu dari sisi eksternal, pasar mencermati pidato ketua the Fed , Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole. Warsh memberi sinyal hawkish (ketat) meski tidak secara eksplisit menyatakan akan menaikkan suku bunga di bulan September.

"Probabilitas kenaikan suku bunga the Fed sebesar 25 basis poin menjadi 4,0 persen, melonjak dari 35,4 persen menjadi 57,5 persen. Hal tersebut mendorong imbal hasil obligasi AS (US Treasury) 10 tahun naik ke sekitar 4,72 persen," kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.

Menurutnya, perkembangan tersebut akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Sejak awal Agustus, rupiah menguat dari sekitar Rp18.000 per dolar AS menuju Rp17.800–17.900 per dolar AS.

Penguatan itu bersamaan dengan menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed, setelah data ketenagakerjaan AS melemah. "Kami memperkirakan BI akan tetap fleksibel, dengan intervensi valas dan kalibrasi kembali SRBI sebagai garis pertahanan paling depan," ujar Rully.

Dia menilai BI-Rate 5,75 persen memadai dalam skenario baseline."Tapi level suku bunga 6 persen cukup logis apabila tekanan terhadap rupiah menjadi lebih persisten," ucap Rully.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....