IHSG Stagnan di Jeda Siang ke Level 6.517,23

  • 31 Agt 2026 13:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG terkoreksi tipis 0,01 persen ke level 6.517,237 pada jeda siang perdagangan Senin, 31 Agustus 2026.
  • Fanny Suherman memproyeksikan IHSG berpotensi rebound setelah mampu bertahan di atas support 6.500.
  • Sentimen global masih membayangi pasar, termasuk pergerakan Wall Street dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak stagnan pada jeda siang perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. IHSG hanya terkoreksi 0,88 poin atau 0,01 persen ke level 6.517,23.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.511. Indeks kemudian bergerak di rentang 6.476 hingga 6.525.

Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp10,326 triliun dengan volume 26,362 miliar saham. Sebanyak 392 saham menguat, 229 saham melemah, dan 166 saham lainnya stagnan.

Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman memperkirakan IHSG berpeluang menguat pada perdagangan hari ini. Proyeksi tersebut menyusul kemampuan IHSG bertahan di atas level support 6.500 pada perdagangan sebelumnya.

“IHSG berpotensi rebound hari ini setelah kemarin tetap bertahan di atas support kuat di 6.500,” kata Fanny dalam riset harian, Senin, 31 Agustus 2026.

Fanny memperkirakan level support IHSG berada pada rentang 6.460 hingga 6.500. Sementara level resistance diproyeksikan berada di kisaran 6.580 hingga 6.620.

Pergerakan IHSG turut dipengaruhi sentimen bursa saham regional Asia. Mayoritas bursa Asia menguat seiring penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi.

Penurunan tersebut didorong optimisme terhadap dimulainya kembali dialog Iran dan Oman. Investor mencermati peluang pembukaan kembali Selat Hormuz yang dapat memengaruhi sentimen pasar global.

Namun, penguatan pasar domestik masih tertahan oleh sentimen negatif dari Wall Street. Bursa saham Amerika Serikat sebelumnya ditutup melemah sehingga membuat investor domestik tetap berhati-hati.

Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum Jackson Hole. Pernyataan tersebut mengindikasikan bank sentral AS masih berkomitmen menekan inflasi menuju target dua persen.

“Tanpa keyakinan bahwa inflasi bergerak secara jelas dan cukup cepat menuju target 2 persen yang ditetapkan The Fed, bank sentral masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan,” kata Warsh.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mempertimbangkan kembali prospek kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Sentimen itu berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham di pasar domestik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....