IHSG Naik ke Level 6.525,69 pada Penutupan Perdagangan Jumat
- 21 Agt 2026 17:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup menguat 24,1 poin atau 0,37 persen ke level 6.525,69
- Pelaku pasar mencermati penguatan manufaktur Jepang serta pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Tiongkok
- Pasar domestik turut mencermati rencana BEI menghapus batas harga minimum saham
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukan penguatan pada penutupan sesi perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026. IHSG ditutup pada posisi 6.525,69 atau naik 24,1 poin (0,37 persen) setelah dibuka di level 6.524,07.
Pergerakan IHSG didominasi 319 saham naik, 294 saham turun, dan 178 saham stagnan. Sementara aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai 16,95 triliun.
Volume saham yang diperdagangkan tercatat mencapai 53,18 miliar lembar. Sedangkan frekuensi perdagangan mencapai lebih dari 2,25 juta kali transaksi.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan bursa regional Asia turut menjadi perhatian pelaku pasar. “Bursa regional Asia bergerak menguat, tampaknya pelaku pasar merespon rilis data ekonomi Jepang dan juga menantikan pertemuan komite Tiongkok,” katanya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut Tim Pilarmas, aktivitas manufaktur Jepang menunjukkan perkembangan positif pada Agustus 2026. Ia menyebut Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global Jepang meningkat menjadi 55,1 dari 54,5 bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut menandai bulan kedelapan berturut-turut ekspansi aktivitas manufaktur Jepang. Pertumbuhan tersebut juga menjadi yang terkuat pada sektor manufaktur Jepang sejak April 2026.
Pelaku pasar selanjutnya mencermati pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Tiongkok pada 25-28 Agustus 2026 mendatang. Pertemuan tersebut menjadi perhatian setelah serangkaian data ekonomi Tiongkok menunjukkan pelemahan pada Juli 2026.
Di Amerika Serikat, pasar mencermati volatilitas Wall Street akibat kekhawatiran terhadap imbal hasil jangka panjang. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar saham.
Sementara itu, harga minyak dunia melanjutkan penguatan seiring meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran. Tim analis menyebut pelaku pasar mencermati potensi sanksi ekonomi baru Amerika Serikat terhadap Iran di tengah konflik Selat Hormuz.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia menyatakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap terjaga pada triwulan II 2026. NPI mencatat defisit 0,9 miliar dolar AS, membaik dibandingkan defisit 9,1 miliar dolar AS sebelumnya.
Menurut Pilarmas, pelaku pasar domestik juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas harga minimum saham. Rencana tersebut, lanjutnya, ditujukan meningkatkan likuiditas dan efisiensi perdagangan saham berharga rendah di pasar domestik.
Namun, kata dia, perubahan batas harga tersebut berpotensi meningkatkan risiko spekulasi pada saham berharga rendah. Karena itu, pelaku pasar tetap mencermati dampaknya terhadap likuiditas dan stabilitas perdagangan saham domestik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....