BI Pertahankan Suku Bunga, Penguatan Rupiah Berlanjut hingga Akhir Perdagangan
- 19 Agt 2026 22:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Data Bloomberg menunjukkan, rupiah hari ini ditutup naik 0,12 persen atau 22 poin ke posisi Rp17.840 per dolar AS
- Penguatan rupiah tidak lepas dari pengumuman BI terkait kebijakan suku bunga. BI mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen
- Dari eksternal, para investor sedang menimbang sinyal yang saling bertentangan antara AS-Iran. Khususnya mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapalari eksternal
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS sepanjang hari ini hingga penutupan perdagangan. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah ditutup naik 0,12 persen atau 22 poin ke posisi Rp17.840 per dolar AS.
Penguatan rupiah tidak lepas dari pengumuman BI terkait kebijakan suku bunga. “BI mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen setelah melakukan Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 Agustus 2026,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu, 19 Agustus 2026.
Keputusan mempertahankan suku bunga, dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global. Selain itu untuk menjaga inflasi di kisaran target serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu dari eksternal, Ibrahim menyebut para investor sedang menimbang sinyal yang saling bertentangan antara AS-Iran. Khususnya mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal.
“Sementara Iran mengklaim bahwa Selat Hormuz masih tertutup bagi aktivitas pelayaran,” ucap Ibrahim. Sejak berakhirnya kesepakatan gencatan senjata Senin kemarin, belum ada serangan baru dari kedua belah pihak.
Sejumlah negara terpaksa menghindari pelayaran melalui Selat Hormuz di tengah pertikaian kedua negara itu. Parlemen negara Irak menyetujui pengiriman ekspor minyak mentah melalui perusahaan internasional dan lokal untuk mengindari perlintasan di Selat Hormuz.
Sementara itu, dua perusahaan pelayaran raksasa asal Tiongkok telah menghentikan pengiriman kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb. Tiongkok mengalihkan pengambilan minyak di luar wilayah Teluk.
Selanjutnya, kata Ibrahim, pelaku pasar menunggu risalah rapat the Fed bulan Juli dan akan dirilis hari Rabu waktu AS. Risalah itu menjadi petunjuk mengenai penilaian para pembuat kebijakan terhadap inflasi serta langkah yang tepat terkait suku bunga.
“Perhatian kemudian akan beralih pada pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh. Ia akan berbicara dalam simposium Jackson Hole pekan depan,” ujar Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....