Calon Gubernur BI Ada Titik Terang, Rupiah Ditutup Naik Signifikan
- 10 Agt 2026 21:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Data Bloomberg menunjukkan, rupiah naik 0,79 persen atau 142 poin ke posisi Rp17.755 per dolar AS
- Nilai tukar rupiah melesat setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengajukan Destry Damayanti, sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif
- Meredanya kekhawatiran akan kenaikan suku bunga the Fed juga ikut mendorong penguatan rupiah
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat signifikan terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah naik 0,79 persen atau 142 poin ke posisi Rp17.755 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah melesat setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengajukan Destry Damayanti, sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif. “Prabowo sudah menyampaikan usulannya ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam bentuk Surat Presiden (Surpres),” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin, 10 Agustus 2026.
Sentimen pasar terkait penunjukkan Destry sebagai calon gubernur BI mampu mendorong penguatan rupiah. Meskpun data ekonomi yang dirilis BI melemah, yaitu data Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK).
Pada Juli 2026, IKK tercatat sebesar 116,8, turun dibandingkan IKK Juni 2026 sebesar 117,8. Dengan demkian IKK sudah melemah selama tida bulan berturut-turut,
“Tren ini menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi. Mereka juga berhati-hati dalam menentukan keputusan belanja,” ujar Ibrahim.
Meski mengalami penurunan, anggka IKK masih di atas 100, artinya secara umum konsumen masih optimis terhadap kondisi ekonomi. “Pelemahan keyakinan konsumen menjadi perhatian, karena konsumsi rumah tangga salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Ibrahim.
Jika tren penurunan berlanjut, menurutnya, ruang pertumbuhan konsumsi dapat ikut tertekan. Penyebabnya, rumah tangga cenderung menahan belanja dan lebih selektif dalam mengalokasikan pendapatan.
Perkembangan IKK pada bulan-bulan berikutnya menjadi perhatian penting. Dari data itu akan terlihat seberapa kuat daya tahan konsumsi domestik di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Dari sisi ekternal, Ibrahim menyatakan, meredanya kekhawatiran akan kenaikan suku bunga the Fed juga ikut mendorong penguatan rupiah. Menurut CME FedWatch Tool, pasar saat ini melihat sekitar 42 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan di bulan September mendatang.
“Ekspektasi itu turun dari sekitar 67 persen seminggu yang lalu,” ujar Ibrahim. Selanjutnya, pasar akan mencermati data Indeks Harga Konsumen di AS yang akan dirilis hari Rabu.
Sementara itu, AS dan Iran masih tarik ulur dalam konflik yang masih rentan ketegangan baru. Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz untuk AS, sepanjang negara itu belum membayar kompensasi atas kerusakan yang disebabkan serangannya ke Iran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....