Rilis Data Ekonomi BPS dan BI Sepekan ke Depan Berisiko Menekan Rupiah
- 02 Agt 2026 22:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah diprakirakan masih berisiko melemah terhadap dolar AS sepekan mendatang antara Rp18.250-Rp18.300 an per dolar AS
- Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis sejumlah data ekonomi. Diantaranya data Neraca Perdagangan Indonesia bulan Juni dan laju inflasi bulan Juli 2026
- Selain BPS, Bank Indonesia (BI) juga akan merilis sejumlah data ekonomi. Antara lain cadangan devisa negara dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah diprakirakan masih berisiko melemah terhadap dolar AS sepekan mendatang. Sejumlah data ekonomi Indonesia akan dirilis, yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
"Nilai tukar rupiah kemungkinan besar akan melemah, mendekati level di Rp18.250 sampai Rp18.300an per dolar AS. Sementara indeks dolar AS diprakirakan akan bergerak di level 99,20-102,20," kata Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Minggu, 2 Agustus 2026.
Senin, 3 Agustus 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis sejumlah data ekonomi. Diantaranya data Neraca Perdagangan Indonesia bulan Juni dan laju inflasi bulan Juli 2026.
"Neraca perdagangan bulan Juni kemungkinan akan defisit. Sedangkan laju inflasi diprakirakan akan melandai karena harga-harga relatif turun karena danya intervensi pasar," ujar Ibrahim.
Pekan ini juga akan dirilis data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang diprediksi akan mengalami kontraksi di bawah angka 50. Hal itu mengindikasikan produktivitas yang turun karena jumlah tenaga kerja yang turun akibat banyaknya PHK.
Selain BPS, Bank Indonesia (BI) juga akan merilis sejumlah data ekonomi. Antara lain cadangan devisa negara dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Data cadangan devisa juga diprakirakan menurun dari USD145,6 miliar di bulan Juni. Cadangan devisa itu cukup impor 4,9 bulan, di bawah ketentuan internasional.
"Aturan internasional nya, negara dengan rating utang BBB seperti Indonesia, cadangan devisanya harus mampu membiayai 5 bulan impor," ucap Ibrahim. Data lainnya yang tak kalah penting di bulan Agustus ini adalah data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
IKK bulan Juli, menurut Ibrahim, kemungkinan menurun, sehingga sudah tiga bulan IKK mengalami penurunan. Di bulan Juli IKK diprakirakan di level 116,6, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 117,8.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, pihaknya memprakirakan laju inflasi akan termoderasi. Inflasi bulanan di bulan Juli diprakirakan sebesar 0,03 persen, lebih rendah dibandingkan Juni sebesar 1,41 persen.
Sedangkan inflasi tahun diprakirakan sebesar 3,06 persen. Inflasi yang melambat, kata Andry ditopang oleh inflasi harga bergejolak (volatile food) yang turun menjadi 1,12 persen di bulan Juli 2026.
Penurunan inflasi dari kelompok volatile food, ditopang oleh turunnya harga cabai merah. Serta turunnya harga bawang merah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....