Permintaan Tekstil Global Mulai Pulih, Peluang Bangkit Industri TPT Nasional

  • 30 Jul 2026 16:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia Eximbank Institute mencatat permintaan global terhadap produk tekstil mulai pulih sepanjang tahun 2025
  • Pemulihan permintaan produk tekstil membuka peluang bagi industri tekstil nasional untuk meningkatkan penetrasi pasar internasional.
  • Untuk meningkatkan daya saing tersebut industri TPT harus memperkuat rantai pasok, modernisasi produksi, serta dukungan pembiayaan ekspor.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia Eximbank Institute mencatat permintaan global terhadap produk tekstil mulai pulih sepanjang tahun 2025. Utamanya permintaan produk tekstil hulu seperti benang, kain tenun, dan kain rajut.

Pemulihan itu membuka peluang bagi industri tekstil nasional untuk meningkatkan penetrasi pasar internasional. Meski harus bersaing ketat dengan negara Tiongkok, India, dan Vietnam.

"Daya saing ekspor tekstil Indonesia saat ini ditopang oleh produk finished fabric. Porsinya mencapai sekitar 74 persen dari total ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional," kata Direktur Pelaksana Bisnis I Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Anton Herdianto dalam pernyataan tertulisnya Kamis 30 Juli 2026.

Untuk meningkatkan daya saing tersebut industri TPT harus memperkuat rantai pasok, modernisasi produksi, serta dukungan pembiayaan ekspor. Penguatan rantai pasok, menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor dan keberlanjutan kinerja ekspor TPT

"Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif. Mereka juga melihat kualitas produk, ketepatan pengiriman, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan, ujar Anton.

Indonesia Eximbank Institute memprakirakan ekspor tekstil nasional tetap tumbuh solid hingga tahun 2027. Seiring prospek pertumbuhan global yang membaik dan proyeksi penurunan suku bunga global di masa depan.

"Permintaan masyarakat akan meningkat, termasuk permintaan produk pakaian," ucap Anton. Tahun 2026, ekspor tekstil nasional diperkirakan tumbuh sekitar 2-3,2 persen, pada tahun 2027 pertumbuhannya diprakirakan antara 3,5-4 persen.

Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menangkap peluang tersebut. Terutama dari sisi biaya tenaga kerja yang kompetitif serta struktur industri yang telah terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Tantangannya hanya pada produktivitas, namun persoalan itu dapat diatasi dengan mempercepat modernisasi industri. Selain itu, memenuhi standar keberlanjutan yang semakin menjadi persyaratan utama di pasar ekspor

Untuk mendukung sektor TPT agar ekspornya berkelanjutan, LPEI menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan trade finance. Fasilitas tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan eksportir.

"Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mendorong revitalisasi industri tekstil dan sepatu. Revitalisasi dilakukan melalui penyediaan likuiditas yang terjangkau melalui Indonesia Eximbank/ LPEI," kata Anton menutup keterangannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....