Pelemahan Rupiah Berlanjut karena Tekanan Internal dan Eksternal
- 28 Jul 2026 17:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,41 persen atau 76 poin ke posisi Rp18.083 per dolar AS
- Pelaku pasar masih mencermati transisi di Bank Indonesia setelah pengunduran diri Gubernur BI
- Perangkat CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62 persen bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga bulan ini
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,41 persen atau 76 poin ke posisi Rp18.083 per dolar AS.
Pelaku pasar masih mencermati transisi di Bank Indonesia setelah pengunduran diri Gubernur BI, Perry Warjiyo. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian di tengah depresiasi rupiah, derasnya arus keluar (outflow) dana asing serta tren kenaikan suku bunga global.
"Namun, penunjukan Destry Damayanti sebagai pejabat gubernur BI sementara memberi optimisme pasar. Utamanya komitmen bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa, 28 Juli 2026.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada penunjukkan Gubernur BI yang definitif. Pasar berharap penunjukkan Gubernur BI yang baru sesuai harapan dan transisi kepemimpinan berjalan lancar.
"Sehingga dapat menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral. Utamanya dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Ibrahim.
Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings, kataIbrahim, menyebut pengunduran diri gubernur BI tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia. Meski hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara.
Dari sisi eksternal, konflik AS-Iran masih memicu kekhawatiran pasar akan berlanjutnya gangguan pasokan energi. Apalagi kelompok Houthi di Yaman juga masih memblokade Selat Bab el-Mandeb.
Sementara itu, the Fed diprakirakan akan mempertahankan suku bunga tetap bulan ini. The Fed akan menyampaikan pengumumannya pada Rabu, 29 Juli 2026.
"Perangkat CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62 persen untuk skenario tersebut. Namun, prospek kebijakan moneter cenderung fluktuatif bulan ini di tengah situasi yang dinamis di Timur Tengah," ucap Ibrahim.
Ketua the Fed, Kevin Warsh telah menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menjaga stabilitas harga. Ia juga telah meluncurkan tinjauan menyeluruh terhadap operasional Fed dengan menunjuk lima gugus tugas.
Tugas itu menangani berbagai aspek, seperti komunikasi dan kerangka kerja inflasi untuk membantu kerja the Fed. Kalender ekonomi minggu ini, lanjut Ibrahim, juga akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter.
"Pelaku pasar akan menerima data pertumbuhan ekonomi AS kuartal II 2026. Serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Juni yang merupakan indikator inflasi acuan bagi the Fed," kata Ibrahim, menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....