IHSG Menguat di Tengah Tekanan Arus Keluar Modal Asing
- 26 Jul 2026 13:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan kemarin mengalami kenaikan meski masih terjadi aliran keluar modal asing
- Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian BEI, naik 66,88 persen menjadi 43,68 miliar lembar saham
- Akhir pekan kemarin, masih terjadi aliran keluar modal asing dengan net sell (jual bersih) saham senilai Rp1,36 triliun
RRI.CO.ID, Jakarta - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan kemarin mengalami kenaikan. Kenaikan terjadi meski masih terjadi aliran keluar modal asing dari pasar modal Indonesia.
Berdasarkan laporan mingguan BEI untuk tanggal 20-24 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan ini naik 0,34 persen. Sementara itu, akhir pekan ini IHSG ditutup di level 6.196, naik dari 6.175,53 pada pekan sebelumnya.
Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian BEI, naik 66,88 persen menjadi 43,68 miliar lembar saham. Pada pekan sebelumnya, rata-rata volume transaksi harian sebesar 26,17 miliar lembar saham.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian Bursa meningkat sebesar 41,21 persen menjadi Rp19,76 triliun. Pada pekan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp13,99 triliun.
Rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami peningkatan sebesar 14,4 persen menjadi 2,67 juta kali transaksi. Pekan sebelumnya rata-rata frekuensi transaksi harian sebesar 2,33 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar BEI sepekan ini meningkat sebesar 1,13 persen menjadi Rp10.870 triliun. Pekan sebelumnya, kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp10.749 triliun pada pekan sebelumnya.
Akhir pekan kemarin, masih terjadi aliran keluar modal asing dengan net sell (jual bersih) saham senilai Rp1,36 triliun. Sehingga sepanjang tahun 2026, investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp79,09 triliun.
Sentimen investor di pasar modal sepekan kemarin masih dipengaruhi berbagai faktor, utamanya dari eksternal. Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan menyebabkan kenaikan kembali harga minyak.
Pasar mengkhawatirkan kenaikan harga energi akan memicu laju inflasi global lebih tinggi. Sehingga bank-bank sentral, utamanya the Fed, diprakirakan akan menaikkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Tim Phintraco Sekuritas menyebut, pelaku pasar akan lebih mencermati saham-saham energi, jika kenaikan harga minyak mentah berlanjut. Di sisi lain, pasar juga menunggu dampak keputusan Presiden Trump yang kembali mengenakan tarif bea masuk impor 10 persen.
Pengenaan tarif tambahan itu diumumkan setelah AS melakukan investigasi terhadap sejumlah negara, mengenai aturan tenaga kerja utamanya kerja paksa. Negara yang dianggap melanggar, termasuk Indonesia, dikenai tarif tambahan bea masuk impor tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....