Akhir Pekan, Rupiah Makin Tertekan ke Posisi Rp17.963 per Dolar AS

  • 24 Jul 2026 16:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg,rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin ke posisi Rp17.963 per dolar AS saat penutupan perdagangan
  • Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mencermati tarif impor baru yang diumumkan Presiden Trump. Kabar ini ikut mempengaruhi sentimen di pasar valuta asing
  • Perkembangan geopolitik juga masih dominan mempengaruhi pergerakan mata uang terhadap dolar AS.  Medi AS, The New York Times melaporkan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata

RRI.CO.ID, Jakarta - Mata uang rupiah masih belum mampu menahan tekanan dolar AS, terus melemah sepanjang hari ini. Berdasarkan data Bloomberg,rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin ke posisi Rp17.963 per dolar AS saat penutupan perdagangan.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mencermati tarif impor baru yang diumumkan Presiden Trump. Kabar ini ikut mempengaruhi sentimen di pasar valuta asing.

“Kebijakan tersebut menetapkan tarif sebesar 10 persen dan 12,5 persen terhadap produk impor, termasuk dari Indonesia,” kata Ibrahim dalam analisinya, Jumat, 24 Juli 2026. Pengenaan tarif baru diberlakukan setelah Perwakilan Perdagangan AS (USTR) menyelesaikan investigasnya terkait praktik kerja paksa.

Pemerintah AS menyebut kebijakan itu untuk mendorong negara-negara mitra dagang memperketat aturan tenaga kerja. Yaitu melarang impoir terhadap produk yang dihasilkan dengan menggunakan tenaga kerja paksa.

Perkembangan geopolitik juga masih dominan mempengaruhi pergerakan mata uang terhadap dolar AS. Medi AS, The New York Times melaporkan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata, sehingga meredupkan harapan untuk de-eskalasi jangka pendek.

Sementara itu, data pasar tenaga kerja AS ternyata lebih kuat dari perkiraan. Sehingga investor betul-betul khawatir The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang restriktif.

“Klaim pengangguran awal secara tak terduga turun menjadi 187.000, level terendah dalam beberapa dekade,” ucap Ibrahim. Kondisi ini, menurutnya, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu dari dalam negeri, Ibrahim mencermati potensi defisit APBN yang akan melebar karena kenaikan harga minyak mentah. “Harga minyak dunia saat ini sudah di atas target APBN perubahan yaitu USD83 per barel dan nilai tukar rupiah kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS,” ucap Ibrahim.

Sehingga pemerintah harus menambah dilar AS untuk menutup defisit anggaran tersebut. Kondisi itu akan membuat nilai tukar rupiah makin tertekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....