IHSG Turun 132,32 Poin, Sentimen Global Bayangi Pasar Saham Indonesia
- 24 Jul 2026 16:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup melemah ke level 6.182,99 atau turun 132,32 poin atau 2,1 persen
- Pelemahan dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan kebijakan tarif baru Amerika Serikat
- Kenaikan harga minyak dunia dinilai berpotensi menekan inflasi, subsidi energi, nilai tukar rupiah, serta daya beli masyarakat
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di penutupan sesi perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 6.182,99 atau naik 132,32 poin (2,1 persen).
Berdasarkan data perdagangan, IHSG sempat bergerak dan menyentuh posisi terendah pada 6.159,14 hari ini. Pada awal perdagangan, IHSG juga dibuka di zona merah pada 6.266,97.
Pergerakan IHSG didominasi 586 saham melemah, 93 saham menguat, dan 117 saham stagnan. Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai 16,79 triliun.
Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 36,69 miliar lembar. Dengan frekuensi lebih dari 2,2 juta kali transaksi.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa Asia. Pelaku pasar mengambil sikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya konflik geopolitik dan tarif baru Amerika Serikat (AS).
"Perang yang semakin memanas dan kebijakan tarif dagang baru Amerika Serikat meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut diproyeksikan menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus memicu inflasi apabila harga energi tetap tinggi," kata tim analis, Jumat, 24 Juli 2026.
Pilarmas menjelaskan sentimen negatif dipicu lonjakan harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel. Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan Timur Tengah setelah serangan Houthi terhadap kapal tanker Saudi.
Pilarmas menilai ancaman Presiden Amerika Serikat terhadap Iran turut meningkatkan eskalasi konflik kawasan secara signifikan. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran inflasi, sehingga suku bunga global diperkirakan bertahan tinggi lebih lama.
Selain itu, AS mulai memberlakukan tarif impor baru terhadap sekitar enam puluh mitra dagang utama. Kebijakan tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok global serta memperlambat pertumbuhan ekonomi berbagai negara.
Dari dalam negeri, Pilarmas menilai kenaikan harga minyak dunia turut meningkatkan tekanan terhadap perekonomian nasional. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar beban subsidi energi serta mempersempit ruang fiskal pemerintah ke depan.
Pilarmas juga memperkirakan tekanan tersebut dapat memicu inflasi serta meningkatkan risiko kenaikan suku bunga acuan. Selain itu, nilai tukar rupiah, neraca perdagangan, dan daya beli masyarakat diperkirakan turut tertekan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....