Rupiah Ditutup Melemah Lagi, Dipicu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak
- 20 Jul 2026 21:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Data Bloomberg menunjukkan, rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin ke posisi Rp17.948 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini
- Pasar keuangan masih waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak yang berlanjut karena masih memanasnya konflik AS-Iran
- Di dalam negeri, ada kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 di bawah 5 persen
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin ke posisi Rp17.948 per dolar AS.
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS yang masih fluktuatif utamanya dipengaruhi faktor eksternal. “Pasar keuangan masih waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak yang berlanjut karena masih memanasnya konflik AS-Iran”, kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin, 20 Juli 2026.
Harga minyak terus melambung sejak AS melakukan serangan baru ke Iran. Iran pun melakukan serangan balasan ke berbagai fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk.
“Selain itu, data inflasi dan pasar tenaga kerja AS baru-baru ini menunjukkan latar belakang ekonomi yang lebih lemah. Investor tetap fokus kemungkinan kenaikan biaya energi yang membut the Fed sulit mengendalikan inflasi,” ujar Ibrahim.
Kondisi itu, tambahnya, berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. The Fed diprediksi akan mempetahankan suku bunga tinggi yang mendorong naiknya imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar AS.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati perkembangan perekonomian Indonesia. Di tengah derasnya arus investasi asing, investasi domestik melemah dan konsumsi rumah tangga yang melemah.
Kondisi itu, menurutnya, dapat menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah 5 persen pada kuartal II 2026. “Pertumbuhan ekonomi kemungkinan hanya mencapai 4,9 persen secara tahunan,” ucap Ibrahim.
Realisasi investasi sebesar Rp511,8 triliun dengan pertumbuhan 7,1 persen dinilai belum mampu mengkompensasi perlambatan permintaan domestik. Sementara itu, pelaku usaha domestik masih memilih menahan ekspansi karena melemahnya permintaan di dalam negeri.
“Pelaku usaha juga mengalami tekanan dari sisi tingginya pembiayaan pendanaan dan ketidakpastian ekonomi. Karenanya, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi dan mendorong investasi ke sektor yang banyak menyerap tenaga kerja,”kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....