IHSG Bergerak di Zona Hijau pada Penutupan di Level 5912,44
- 09 Jul 2026 16:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup menguat di posisi 5.912,44 poin atau naik 39,07 poin (0,67%) pada perdagangan Kamis 9 Juli 2026, dengan 327 saham menguat dan nilai transaksi mencapai Rp11,387 triliun.
- Sentimen negatif dari ketegangan geopolitik Timur Tengah antara AS dan Iran menyebabkan kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi global dan mendorong harga minyak WTI naik ke 74,48 dolar per barel serta Brent ke 78,02 dolar per barel.
- Tim Pilarmas memproyeksikan risiko kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin tahun ini akibat meningkatnya tekanan inflasi global, yang dapat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
- Sentimen positif datang dari percepatan penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang mencapai Rp357,4 triliun atau 51,6% dari pagu APBN 2026 hingga semester pertama tahun ini.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat di penutupan sesi perdagangan Kamis, 9 Juli 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 5.912.44 atau naik 39,07 poin (0,67 persen).
Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan hari ini. IHSG dibuka pada level 5865,77 dan menyentuh posisi tertinggi di 5912,44.
Mayoritas saham mengalami penguatan. Tercatat sebanyak 327 saham menguat, sementara 275 saham melemah dan 190 saham stagnan.
Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai Rp11,387 triliun. Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 26,650 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 2,231 juta kali transaksi.
Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menilai sentimen negatif masih datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran di tengah upaya perundingan damai kedua negara.
“Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz,” kata Tim Pilarmas. Kondisi tersebut, menurut mereka, turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah WTI tercatat naik ke level 74,48 dolar AS per barel. Sementara harga minyak Brent meningkat hingga 78,02 dolar AS per barel.
Kenaikan harga energi dinilai dapat meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini juga memperbesar peluang bank sentral AS atau The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya.
“Risalah pertemuan The Fed menunjukkan sebagian pejabat mulai mengkhawatirkan risiko inflasi yang kembali meningkat. Sejumlah anggota bahkan memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini,” ujar Tim Pilarmas.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar saham pun berpotensi berlanjut.
Meski demikian, sentimen positif datang dari percepatan realisasi Transfer ke Daerah (TKD). Hingga semester pertama 2026, penyaluran TKD telah mencapai Rp357,4 triliun atau 51,6 persen dari pagu APBN 2026.
Menurut Tim Pilarmas, percepatan penyaluran anggaran tersebut berpotensi mempercepat aktivitas ekonomi daerah. Namun dampaknya tetap bergantung pada kualitas dan produktivitas belanja pemerintah daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....