IHSG Ditutup Melemah 1,79 Persen ke Level 5.879
- 08 Jul 2026 17:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup melemah 107,41 poin atau 1,79 persen ke level 5.879,08 pada perdagangan Rabu, 8 Juli 2026.
- Pelemahan dipicu meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran inflasi serta kenaikan suku bunga global.
- Dari dalam negeri, pasar terbebani pemantauan S&P Dow Jones Indices terhadap transparansi pasar modal Indonesia dan potensi reklasifikasi status pasar pada 2027.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 8 Juli 2026. IHSG berakhir di level 5.879 atau turun 107,413 poin setara 1,79 persen.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 5.872 hingga 5.984. Indeks dibuka pada level 5.984 dan sempat menyentuh level tertinggi 5.984.
Sebanyak 191 saham menguat, 482 saham melemah, dan 115 saham tidak berubah. Volume transaksi mencapai 20,885 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar 9,539 triliun.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, mayoritas bursa Asia bergerak melemah di tengah meningkatnya risiko geopolitik global.
“Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Serangan udara Amerika Serikat ke Iran memicu eskalasi baru di kawasan Timur Tengah,” kata Tim Pilarmas, Rabu, 8 Juli 2026.
Situasi tersebut terjadi setelah adanya serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Amerika Serikat juga mencabut dispensasi yang memungkinkan Iran menjual minyak mentah ke pasar global.
Langkah tersebut dinilai dapat mengganggu kesepakatan damai sementara antara kedua negara. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu kekhawatiran inflasi.
“Meningkatnya tekanan inflasi dapat memperbesar peluang kenaikan suku bunga global. Sentimen tersebut kemudian menekan pergerakan pasar saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia,” ujar mereka.
Dari dalam negeri, pasar juga dibayangi sentimen terkait evaluasi pasar modal Indonesia oleh S&P Dow Jones Indices atau S&P DJI. Lembaga tersebut memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berpotensi mengalami reklasifikasi pasar pada 2027.
Tim Pilarmas menjelaskan, S&P DJI saat ini melakukan pemantauan khusus terhadap transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Penilaian tersebut mengacu pada panduan baru yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia.
“Isu transparansi pasar modal menjadi perhatian utama investor global. Sebelumnya, MSCI juga sempat menyoroti persoalan serupa dalam penilaian aksesibilitas pasar Indonesia,” ucap Tim Pilarmas.
Potensi penurunan status dari emerging market menjadi frontier market dinilai dapat menekan pasar keuangan domestik. Pelaku pasar kini menantikan langkah regulator untuk memperkuat transparansi dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....