IHSG Ditutup Menguat ke Level 5.695 pada Perdagangan Hari Ini

  • 01 Jul 2026 16:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup menguat 51,92 poin atau 0,92 persen ke level 5.695,12 pada penutupan perdagangan Rabu, 1 Juli 2026.
  • Penguatan ditopang sentimen positif dari bursa Asia dan optimisme terhadap kelanjutan perundingan damai Amerika Serikat-Iran di Doha.
  • Meski begitu, pelaku pasar masih mencermati tantangan domestik, mulai dari kontraksi PMI manufaktur, kenaikan inflasi, hingga defisit neraca perdagangan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. IHSG naik 51,92 poin atau 0,92 persen ke level 5.695.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona hijau setelah dibuka di level 5.640. Pada hari ini Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.737. dan terendah 5.607.

Sebanyak 378 saham menguat, 248 saham melemah, dan 157 saham stagnan. Volume perdagangan tercatat mencapai 18,25 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp10,10 triliun.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG didorong membaiknya sentimen di bursa regional Asia. Pelaku pasar juga masih menantikan perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Doha, Qatar.

"Pasar masih berharap proses negosiasi antara AS dan Iran mampu meredakan ketegangan geopolitik. Meski belum ada pertemuan langsung antara kedua pihak, optimisme terhadap kelanjutan dialog tetap menopang sentimen pasar," kata Tim Pilarmas Investindo Sekuritas, Rabu, 1 Juli 2026.

Tim Pilarmas mengatakan, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed. Ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menguat menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada pekan ini.

"Spekulasi kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar global. Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," ujar mereka.

Dari dalam negeri, penguatan IHSG ditopang pergerakan sejumlah saham konglomerasi meski berbagai indikator ekonomi masih menjadi perhatian investor. Pasar mencermati kontraksi sektor manufaktur, kenaikan inflasi, hingga defisit neraca perdagangan yang terjadi pada Mei 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 0,44 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Sementara secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi mencapai 3,34 persen dan mulai mendekati target Bank Indonesia.

Selain itu, indeks manufaktur Indonesia juga kembali masuk ke zona kontraksi. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Global S&P Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei.

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Defisit tersebut menjadi yang pertama dalam enam tahun terakhir dan dinilai masih menjadi tantangan bagi stabilitas ekonomi nasional.

Tim Pilarmas menilai kondisi tersebut membuat Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Pasar pun diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif sambil menunggu perkembangan sentimen global maupun data ekonomi berikutnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....