IHSG Diprakirakan Bergerak di Zona Merah jelang Rilis Inflasi Juni 2026

  • 01 Jul 2026 07:58 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pergerakan IHSG diperkirakan cenderung melemah, berpotensi menguji level 5.000.
  • Investor akan mencermati data-data ekonomi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) seperti tingkat inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan masih akan melemah pada perdagangan Rabu 1 Juli 2026. Sehari sebelumnya, IHSG turun 3,05 persen ke level 5.643 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penurunan IHSG disertai aliran keluar modal asing dengan net sell (jual bersih) senilai Rp1,20 triliun. Saham-saham yang paling banyak dijual asing adalah BBCA, BBRI, BMRI, ASII dan AADI.

“Pergerakan IHSG cenderung ke arah bawah,” kata Tim Phintraco Sekuritas, Rabu, 1 Juli 2026. Menurut analisis tim perusahaan sekuritas tersebut, IHSG berpotensi menguji level 5.500.

Para investor akan mencermati data-data ekonomi penting yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Di antaranya perkembangan laju inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.

“Inflasi Indonesia menurut konsensus diperkirakan meningkat menjadi 0,29 persen secara bulanan,” ujar Tim Phintraco. Sedangkan secara tahunan, inflasi diprakirakan mencapai 3,2 persen pada Juni 2026.

Pada Mei 2026, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,28 persen dan inflasi tahunan 3,08 persen. “Kenaikan inflasi merupakan dampak kenaikan harga BBM Pertamax pada pertengahan bulan lalu,” katanya.

Tim Phintraco juga memprakirakan inflasi inti akan naik menjadi 2,6 persen secara tahunan pada Juni 2026. Pada bulan sebelumnya, inflasi inti tercatat sebesar 2,59 persen secara tahunan.

Sedangkan surplus neraca perdagangan Indonesia menurut konsensus juga diprakirakan meningkat. Yaitu dari USD900 juta pada Mei 2026 menjadi USD1,1 miliar pada Juni 2026.

Kenaikan surplus neraca perdagangan ini ditopang pertumbuhan ekspor, yang diperkirakan sebesar 4 persen secara tahunan. Di sisi lain, pertumbuhan impor diperkirakan tumbuh sebear 18 persen.

Dari sisi eksternal, pelaku pasar akan mencermati data-data ketenagakerjaan di Amerika Serikat (AS) pekan ini. Ini akan menjadi petunjuk lebih lanjut mengenai langkah kebijakan moneter The Fed pada masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....