Fluktuasi Masih Tinggi, Rupiah Berbalik Loyo ke Posisi Rp17.891 per Dolar AS
- 30 Jun 2026 10:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukarrupiah terpantau kembali melemah ke posisi Rp17.891 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa 30 Juni 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah masih berfluktuasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa 30 Juni 2026. Menurut Bloomberg, rupiah terpantau kembali melemah ke posisi Rp17.891 per dolar AS, turun 0,22 persen dari penutupan sehari sebelumnya
Pada perdagangan Senin 29 Juni 2026, rupiah menguat 0,40 persen menjadi Rp17.851 per dolar AS. “Rupiah diperkirakan akan range bound terhadap dolar AS dengan risiko melemah terbatas,” kata analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Range bound adalah kondisi nilai tukar yang bergerak naik turun secara terbatas. Jika menguat, nilainya tidak terlalu jauh, dan sebaliknya jika melemah tidak terlalu dalam.
“Investor cenderung wait and see menjelang rilis serentetan data-data ekonomi penting,” kata Lukman. Baik dari dalam maupun luar negeri, terutama AS, yang dirilis pekan ini.
Menurut dia, perkembangan geopolitik yang berubah-ubah di Timur Tengah juga membuat investor berhati-hati. “Sehingga nilai tukar rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS,” ucapnya.
Tim Analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan penguatan rupiah didukung oleh berlanjutnya langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI). Di sisi lain, sentimen eksternal juga cenderung membaik.
Tim Mirae mencermati pernyataan BI pada rapat dengan DPR, Senin 29 Juni 2026. Saat itu, pemerintah dan BI kembali menegaskan penguatan koordinasi fiskal-moneter dalam menghadapi perkembangan dinamika global.
Menurut BI, arus masuk modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai USD9 miliar. Aliran masuk modal asing terjadi setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026.
Kenaikan suku bunga disertai ekspansi operasi moneter yang yang nilainya mencapai Rp1.000 triliun hingga akhir Juni 2026. Sedangkan pada Mei 2026, dana operasi moneter tercatat sebesar Rp600 triliun.
“Koordinasi kebijakan yang semakin erat akan terus menopang stabilitas rupiah dan arus masuk portofolio,” kata Tim Mirae. Ini didukung kombinasi imbal hasil domestik yang kompetitif dengan likuiditas yang tetap memadai.
Namun, keberlanjutannya tetap bergantung pada kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan kemajuan reformasi struktural. Risiko geopolitik masih tinggi dan The Fed juga diprakirakan masih akan menerapkan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....