IHSG Merosot 2,73 Persen di Jeda Siang Perdagangan ke Level 5.835,11

  • 26 Jun 2026 12:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG melemah 163,92 poin atau 2,73 persen ke level 5.835,11 pada jeda perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, dengan tekanan jual mendominasi sejak awal sesi.
  • Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pelemahan dipicu sentimen eksternal, mulai dari tekanan Wall Street hingga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed usai rilis data inflasi PCE AS.
  • Dari dalam negeri, pasar dibayangi kekhawatiran terhadap perubahan UU P2SK, turunnya peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di zona merah hingga jeda perdagangan, Jumat, 26 Juni 2026. Pada sesi I, IHSG melemah 163,92 poin atau 2,73 persen ke level 5.835,11.

Sejak pembukaan perdagangan, tekanan jual mendominasi pergerakan indeks. IHSG dibuka di level 6.010,34, sempat menyentuh level tertinggi 6.045,26, sebelum turun hingga level terendah 5.830,14.

Volume perdagangan tercatat mencapai 11,70 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6,39 triliun. Sebanyak 91 saham menguat, 593 saham melemah, dan 123 saham bergerak stagnan.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG pada sesi pertama dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari luar negeri, pasar saham Asia bergerak melemah seiring tekanan jual di Wall Street, menjelang arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Menurut Pilarmas, perhatian pasar saat ini tertuju pada sikap The Fed setelah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Meski demikian, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai sekitar 80 persen.

"Presiden The Fed New York John Williams menilai tekanan inflasi kemungkinan mulai melandai tahun ini, namun masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Sementara Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee melihat adanya perbaikan pada inflasi sektor jasa, meski tekanan inflasi secara keseluruhan dinilai masih terlalu tinggi," kata Tim Pilarmas, Jumat, 26 Juni 2026.

Dari dalam negeri, Pilarmas menilai sentimen pasar turut dibebani menurunnya tingkat kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia. Salah satu perhatian datang dari terbitnya perubahan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Menurut mereka, kebijakan tersebut bertujuan menarik dana masyarakat yang berada di luar sistem keuangan masuk ke dalam negeri. Namun di sisi lain, aturan tersebut dinilai memunculkan kekhawatiran terkait potensi meningkatnya risiko pencucian uang serta dapat memengaruhi persepsi investor.

"Ketentuan tersebut dikhawatirkan dapat melemahkan kepercayaan terhadap institusi strategis. Diantaranya seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan PPATK yang selama ini berperan menjaga integritas sistem keuangan nasional," ujar Tim Pilarmas.

Pilarmas juga menyoroti penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026. Indonesia turun ke posisi 48 dari 70 negara atau merosot delapan peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Pilarmas, penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya efisiensi bisnis, efektivitas pemerintah, dan kualitas infrastruktur. Meski kondisi ekonomi nasional secara umum masih tergolong solid.

Pada sesi pertama perdagangan hari ini, saham-saham dengan penguatan tertinggi ditempati RICY, ASPI, TRUS, MGNA, dan BHAT. Sementara saham yang mengalami pelemahan terdalam antara lain CTBN, FUJI, CLPI, GPSO, dan UVCR.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....