IHSG Tertekan, Ekonom Sebut Sektor Riil Indonesia Masih Baik-Baik Saja
- 26 Jun 2026 07:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak mencerminkan kondisi perekonomian riil Indonesia
- IHSG tercatat menjadi salah satu indeks dengan penurunan terdalam, yakni mencapai 31,95 persen
RRI.CO.ID, Jakarta – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak mencerminkan kondisi perekonomian riil Indonesia. Yang mana perekonomian Indonesia kini masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Ekonom InFast, Bestari Gede Sandra, mengatakan koreksi pasar saham bukan hanya terjadi di Indonesia. Melainkan juga melanda sejumlah bursa saham dunia.
Termasuk Rusia, Hong Kong, Afrika Selatan, India, Maroko, Sri Lanka, Ceko, Islandia, hingga Kuwait. Menurutnya, sebagian besar bursa yang mengalami tekanan berasal dari negara-negara anggota BRICS maupun negara berkembang.
Secara tahunan, IHSG tercatat menjadi salah satu indeks dengan penurunan terdalam, yakni mencapai 31,95 persen. Angka tersebut lebih besar dibandingkan penurunan bursa Rusia sebesar 18,91 persen, Hong Kong 8,66 persen, dan India 8,07 persen.
Gede menilai pelemahan pasar saham tidak sejalan dengan kondisi ekonomi riil di sejumlah negara tersebut. Ia mencontohkan India yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi 7,8 persen pada kuartal I-2026, sementara Indonesia tumbuh 5,6 persen.
“Kondisi ini menunjukkan fenomena decoupling, ketika pasar saham dan ekonomi riil bergerak ke arah yang berbeda. Kinerja pasar saham tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat sehari-hari,” kata Gede, Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut dia, pasar saham saat ini lebih sensitif terhadap sentimen global dan ketidakpastian geopolitik dibandingkan indikator fundamental ekonomi. Salah satu faktor yang masih menjadi perhatian investor adalah perkembangan situasi geopolitik di Selat Hormuz.
Katena kondisi tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan global. Di sisi lain, Gede menilai sejumlah langkah pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional patut diapresiasi.
Upaya perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor (DHE) dan pembentukan PT DSI dinilai dapat membantu meningkatkan penerimaan negara. Serta memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
“Ekonomi riil Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Tantangannya adalah memastikan berbagai reformasi struktural dan perbaikan tata kelola berjalan efektif,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....