Rupiah Belum Bangkit dari Pelemahan, Hari Ini Turun ke Level 17. 843 per Dolar
- 22 Jun 2026 22:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dalam penutupan perdagangan hari ini, rupiah turun 0,22 persen atau 39 persen ke posisi Rp17.843 per dolar AS.
- Sentimen pasar terguncang setelah Presiden Trump mengancam serangan militer terhadap Iran
- Di dalam negeri, muncul kekhawatiran akan inflasi yang meningkat sebagai dampak rambatan kenaikan harga minyak dan pengaruh El Nino
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah belum juga bangkit dari tekanan dolar AS. Dalam penutupan perdagangan hari ini, rupiah turun 0,22 persen atau 39 persen ke posisi Rp17.843 per dolar AS.
Menurut Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, dolar makin menguat karena pernyataan Presiden Trump terkait Iran. ““Sentimen pasar terguncang setelah Presiden Trump mengancam serangan militer terhadap Iran,” kata Ibrahim, Senin, 22 Juni 2026.
Trump melontarkan ancaman itu karena menganggap Iran tidak mampu mengendalikan kelompok Hibzullah di Lebanon. Kelompok pejuang di Lebanon itu berhasil menewaskan sejumlah tentara zionis Israel dalam serangan balasannya terhadap Israel.
Trump mengancam di saat wakil Presiden AS, JC Vance sedang bernegosiasi dengan Iran di Swiss. Delegasi Iran melakukan aksi walk-out saat mendengar ancaman Trump.
Namun akhirnya AS-Iran menyelesaikan putaran pertama negosiasi tersebut. Pembicaraan akan dilanjutkan dalam seminggu ke depan.
Dari sisi ekonomi, pelaku pasar sedang menunggu angka Produk Domestik Bruto kuartal I 2026. Termasuk data Indeks Harga Pengeluaran Pribadi (PCE) inti sebagai petunjuk prospek suku bunga the Fed.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati perkiraan inflasi sebagai dampak kenaikan BBM non-subsidi. Risikonya berupa inflasi impor (imported inflation), imbas rambatan global karena kenaikan harga minyak.
Di sisi lain, faktor perubahan cuaca seperti El Nino juga sering menyebabkan inflasi. Khususnya dari kelompok harga pangan bergejolak
“El Nino diperkirakan terjadi pada Juni hingga Oktober atau November 202. Karenanya faktor cuaca ini perlu diwaspadai,” ucap Ibrahim.
Bank Indonesia yang diberi mandat pengendalian inflasi menyatakan akan bersinergi dengan pemangku kepentingan lainnya, Sehingga stabilitas harga bergejolak dapat dijaga.
“Misalnya melalui Gerakan Nasional Pengendian Inflasi Pangan. Gerakan ini dikordinasikan dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah,” kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....