BI Luncurkan Program Kewirausahaan UMKM Terpadu

  • 22 Jun 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bank Indonesia (BI) akan melaksanakan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut Program tersebut penting untuk mendorong kemandirian ekonomi di tengah kondisi ketidakpastian global saat ini
  • Program Tranformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu juga untuk memberdayakan ekonomi rakyat dan membuka lapangan kerja

RRI.CO.ID, Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan melaksanakan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026. Program ini merupakan komitmen BI untuk memajukan UMKM, sebaga pilar penting pertumbuhan ekonomi nasional.

"BI melakukan pelatihan kewirausahaan terpadu dan pendirian UMKM maju. Sekaligus menciptakan lapangan kerja dan mempekuat ekonomi kerakyatan," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam kegiatan "Kick Off Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026" di komplek Gedung BI Pusat di Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.

Perry menyebut Program tersebut penting untuk mendorong kemandirian ekonomi di tengah kondisi ketidakpastian global saat ini. "Perang Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, perang dagang, dalam ketidakpastian geopolitik, keuangan, dan ekonomi, kita harus semakin mandiri," ucap Perry.

Selain itu, Indonesia memiliki 65 juta UMKM yang sebagian besar skalanya masih kecil dan digerakkan oleh kaum Perempuan. Ini merupakan potensi besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Selain itu, UMKM juga menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam Asta Cita untuk pilar ekonomi kerakyatan. Selain itu, pengembangan UMKM juga menjadi program nasional dan masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN)," ujar Perry.

Menurutnya, selama ini, BI sudah membina sekitar 3.000 UMKM melalui 46 kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia. Termasuk pemberdayaan ekonomi di 1.500 pesantren di Indonesia.

Namun Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu ini, berbeda dengan program pembinaan UMKM lainnya. Dalam program terpadu ini, kata Perry, UMKM yang terpilih akan mengikuti pelatihan kewirausahaan selama 2-2,5 bulan.

Setelah itu, UMKM bersangkutan langsung mempraktikkan pelatihan yang diberikan di UMKM-UMKM yang sudah mapan. Lalu akan dilakukan evaluasi, jika dinyatakan lolos akan diberikan sertifikasi.

"Selanjutnya UMKM tersebut bisa mendapatkan fasilitas permodalan untuk mulai menjalankan usahanya," kata Perry menjelaskan. Langkah ini dilakukan secara nasional bersinergi dengan sejumlah kementerian dan asosiasi pesantren agar "impact" lebih terasa ke perekonomian.

BI menyiapkan 4 program yang dapat diikuti oleh UMKM. Yakni dua program konvensional dan dua program untuk pesantren.

Untuk program konvensional terdiri dari Program Cangkir Barista, berupa pelatihan barista berstandar internasional. Program ini sekaligus untuk menopang sektor pertanian kopi dan pemberdayaan petani kopi.

Dalam program ini, BI menargetkan 400 barista bersertifikasi internasional. Progam konvensional kedua adalah Citra Nusantara, untuk pengembangan produk Wastra Indonesia.

"BI ingin mendorong UMKM wastra naik kelas melalui inovasi produk dan pengembangakewirausahaan," ucap Perry. Sampai saat ini, menurutnya permintaan produk wastra Indonesia masih tinggi, mulai dari tenun, sulam dan kain ecoprin.

Berdasarkan data BI, terdapat 47.000 UMKM wastra di Indonesia yang menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja. "Kami menargetkan 50 inovasi wastra baru dari 500 peserta pada tahun 2026," ucap Perry.

Sedangkan program untuk pesantren terdiri dari Program Air Berkah Indonesia untuk pengembangan produk air dalam kemasan. Targetnya sebanyak 200 pesantren untuk tahun ini.

Program pesantren lainnya adalah Program Tani Berkah, berupa pelatihan wirausaha 'green farming' atau pertanian hidroponik. "Jadi, kita akan mulai 2,5 bulan kompetensi kewirausahaan, 2 bulan praktek, 2 bulan baru untu evaluasi," kata Perry menutup keterangannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....