IHSG Turun 1,25 Persen ke Level 6.099 pada Jeda Siang Perdagangan
- 22 Jun 2026 13:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG melemah 1,25 persen atau 77,21 poin ke level 6.099,93 pada jeda siang perdagangan 22 Juni 2026.
- Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif di rentang 6.100-6.250 dan masih dibayangi risiko koreksi.
- Pelaku pasar mencermati perkembangan konflik AS-Iran, data ekonomi Amerika Serikat, serta hasil Annual Market Classification Review MSCI yang berpotensi memengaruhi pasar Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 1,25 persen atau 77,21 poin ke level 6.099,93, setelah dibuka pada 6.217,04.
Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.226,72. Sedangkan, untuk angka terendah berada di level 6.052,94.
IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan terkonsolidasi pada perdagangan hari ini. Secara teknikal, IHSG berpotensi menguat terbatas dan masih dibayangi risiko koreksi.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, IHSG naik 0,08 persen ke level 6.177. Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan pekan ini IHSG akan bergerak pada rentang 6.100-6.250.
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan konsolidasi,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas. Menurut tim, pergerakan IHSG akan dipengaruhi faktor eksternal maupun faktor domestik, terutama pengumuman MSCI yang akan dirilis segera.
Sementara itu, mayoritas indeks harga saham di Eropa dan Asia ditutup melemah pada akhir pekan lalu. Hal ini dipicu keraguan para investor terhadap perjanjian perdamaian Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pelaku pasar merasa skeptis perjanjian tersebut dapat bertahan lama. Ini terbukti setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz, karena AS dinilai tidak memenuhi salah satu klausul perjanjian terkait Lebanon.
Hingga kini, pasukan Israel masih terus melakukan serangan ke Lebanon. Pemerintah Iran menegaskan perjanjian tersebut bersyarat dan akan diterima jika ada jaminan bahwa hak-hak negara itu akan dilindungi.
Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS seperti indeks harga konsumsi pribadi (PCE) dan pemesanan barang tahan lama. Selain itu, masih ada indeks sentimen konsumen dari Universitas Michigan dan survei Fed regional.
Tim Phintraco memproyeksikan Indeks PCE inti Mei 2026 naik 0,3 persen secara bulanan dari 0,2 persen pada April 2026. Sebelumnya The Fed menaikkan perkiraan inflasi PCE 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 3,6 persen dan 2,3 persen.
Proyeksi indeks PCE inti juga direvisi naik menjadi 3,3 persen pada tahun ini. Sedangkan dari dalam negeri Tim Analis Phintraco mencermati data ekonomi yang akan dirilis pekan ini.
Di antaranya jumlah uang beredar yang mengindikasikan kondisi likuiditas perekonomian. Selain itu investor juga menantikan rilis Annual Market Classification Review dari MSCI.
“Laporan tersebut akan menentukan status Indonesia di Emerging Market," ucap Tim Phintraco. BEI berencana bertemu dengan MSCI untuk mengklarifikasi hasil MSCI Global Market Accessibility Review yang dirilis pekan lalu.
Hasil review tersebut memberikan penilaian negatif pada kriteria information flow. Khususnya mengenai ketersediaan informasi pasar modal dalam bahasa Inggris.
Pelaksana Tugas Dirut BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pihaknya akan meminta penjelasan terkait hal tersebut pada MSCI. Menurut dia, BEI telah mewajibkan seluruh emiten untuk menyampaikan laporan keuangan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....