Akhir Pekan, Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Dolar AS.
- 19 Jun 2026 19:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Data Bloomberg menunjukkan, rupiah ditutup turun 0,06 persen atau 10 poin menjadi Rp17.804 per dolar AS
- Kabar terbaru AS-Iran membatalkan penandatanganan kesepakatan damai permanen di Swiss
- Pelaku pasar mencermati laporan lembaga penyedia indeks global MSCI terhadap pasar modal Indonesia
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih tertekan dolar AS hingga penutupan perdagangan akhir pekan ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah ditutup turun 0,06 persen atau 10 poin menjadi Rp17.804 per dolar AS.
"Sentimen pasar telah membaik secara signifikan sejak Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang. Begitu pula harapan kembali dibukanya Selat Hormuz," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 19 Juni 2026.
Namun harapan itu kemungkinan pupus, karena kabar terbaru AS-Iran membatalkan penandatanganan kesepakatan damai permanen di Swiss. Penandatanganan itu harusnya dilaksanakan di Swiss, pada Jumat 19 Juni 2026 waktu setempat.
Gedung Putih sudah merilis pernyataan bahwa Wakil Presiden JD Vance tidak akan berangkat ke Swiss. Begitu pula di Iran, kantor berita lokal menyebut belum ada konfirmasi keberangkatan delegasi ke Swiss.
Dari sisi ekonomi, pelaku pasar masih mencermati sikap the Fed yang membuka peluang kenaikan suku bunga satu kali tahun ini. Sehingga ekspektasi biaya pinjaman tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
"Sementara itu, ekspektasi inflasi yang lebih rendah biasanya akan mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun investor malah fokus pada potensi the Fed memperketat kebijakan lebih lanjut jika tekanan harga terus berlanjut," ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati laporan lembaga penyedia indeks global MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Lembaga itu menurunkan penilaian untuk kriteria Arus Informasi dari "+" menjadi "-"
Penurunan peringkat, menurut Ibrahim, mencerminkan masih minimnya transparansi data kepemilikan saham dan aktivitas pasar. Kondisi tersebut dinilai merusak proses pembentukan harga yang wajar di pasar.
Selain itu, membatasi kemampuan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan tercatat. Selain isu transparansi, MSCI juga menyoroti keterbatasan pada pasar valuta asing yang kerap menjadi hambatan bagi para investor.
"MSCI menilai tingkat liberalisasi valuta asing di Indonesia masih sangat terbatas," ucap Ibrahim. Namun, MSCI mengumumkan posisi Indonesia masih berada di level negara berkembang atau Emerging Market,.
"Sehingga membuat pasar kembali optimis arus modal asing akan kembali membanjiri pasar keuangan indonesia," kata Ibrahim. Sekaligus memupuskan kekhawatiran akan turunya level pasar modal ke frontier market.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....